Wednesday, September 29, 2004

Kisah Seorang Muallaf (Islamnya seorang Pendeta)

Bismillaahir rohmaanir rohiim
Assalamu 'alaikum Wr. Wb.
Preface :
Cerita dibawah ini diambil dari salah sebuah buku saku berjudulkan "Ayat-ayat penggugah Iman" terbitan PT Remaja Rosdakarya Bandung olehAbdurrahman Arroisi yang menceritakan mengenai kisah orang-orang non-muslimyang pada akhirnya karena kesadaran dan berkah Hidayah dari ALlah beralihmemeluk agama Islam.
Cerita ini Saya hadirkan disini selain untuk mengatasi "kejenuhan" dariperdebatan masalah Syiah yang sepertinya tidak kunjung selesai, juga untukmenambah tebalnya iman kita semuanya (termasuk saya sendiri) agar tetapberkeyakinan bahwa Islam is the right one !!! dan mampu menghargai Islam secara lebih tinggi lagi serta mampu mengambil hikmah dan pelajaran daricerita tersebut.
Setahu saya, posting-posting semacam ini sangat jarang kita jumpai diis-lam@, Dan semoga pula dengan hadirnya cerita ini, akan membuatrekan-rekan kita yang juga sebagai seorang Muallaf dan anggota is-lam@ dapatberbagi cerita dengan kita semua, kenapa hingga ia masuk dan memilih Islam menjadi agamanya.
NAMA SAYA ISELYUS UDA; ISTRI SAYA MARIA JUANA. LIMA BELAS TAHUN SAYA MENJADI PENGINJIL DIKALIMANTAN TENGAH SAMPAI AKHIRNYA SAYA BERTEMU DENGAN SEORANG LAKI-LAKI DALAM MIMPI. BENARKAH IA RASUL YANG TERPUJI ?

Tidak pernah terbayang saya akan bisa menginjakkan kaki dinegeri yangdirindukan Umat Islam itu. Bahkan tak pernah terpikir saya akan memelukagama yang tadinya saya benci itu. Sebab, sejak kecil saya dan istri sayabiasa hidup dilingkungan adat yang sama sekali bertentangan dengan ajaran Islam.

Memang, didalam masyarakat Dayak terdapat beberapa anak suku, yaitu Kenyah,Iban, Kayan, Bahau dan sejumlah kelompok kecil yang tersebar hampirdiseluruh Kalimantan termasuk Sabah dan Serawak diwilayah Malaysia Timur.Namun akar budaya dan kepercayaan kami snyaris tidak berbeda.

Dulu suku Dayak dikenal sebagai pengayau tengkorak manusia. Cerita itubukan dongeng semata. Memburu kepala musuh, baik sesama suku Dayak maupunsuku lain, merupakan pilar utama budaya dan kepercayaan kami lantaran kepalayang baru dipenggal sangat penting bagi terciptanya kesejahteraan seisikampung, sementara tengkorak lama makin luntur kekuatan magisnya. Untuk itudibutuhkan perburuan terus menerus yang menyebabkan sering terjadinyapeperangan, baik antar suku ataupun dengan masyarakat luar.

Jasa Penginjil
Sebetulnya agama Islam sudah tersiar dari Tanah Jawa sejak abad ke-15,terutama di Kutai dalam wilayah kerajaan Hindu Mulawarman yang kini termasukProvinsi Kalimantan Timur. Namun masyarakat Dayak tidak tertarik untukmenganut agama Islam karena kami dilarang berternak babi atau berburu celengdan memakan dagingnya. Islam juga tidak membolehkan umatnya memeliharaanjing. Padahal, babi dan anjing sudah menyatu dengan kehidupan kami dantidak mungkin terpisahkan dari upacara adat dan ritus-ritus nenek moyang.Tak seorang pun penganjur Islam yang pernah memberi tahu bahwa adakeringanan-keringanan yang tidak terlalu keras menajiskan anjing dan babi,serta tidak terlalu memaksa seseorang yang baru membaca syahadat agar segeradikhitan. Seakan-akan keringanan itu sengaja disembunyikan.
Yang kami ketahui, kalau memeluk agama Islam kami harus berpisah dariadat-istiadat dan kebiasaan lama. Sedikit saja menyimpang dan tetapmelaksanakan tradisi para orang tua, kabarnya kami akan dituduh musryik danwajib masuk neraka (?!? - pen). Bukankah itu sungguh menyakitkan dan mengerikan ? Berbeda dengan sikap para penginjil, baik dari kalangan agama Katolikmaupun Protestan. Sesudah Perang Dunia berakhir mereka datang berduyun-duyunmembawa hadiah, ilmu dan pengetahuan baru yang dapat mengubah cara hidupkami tanpa mengharu biru adat istiadat dan upacara ritual nenek moyang.Maka dari hari kehari lonceng-lonceng gereja makin membahana sampaikekawasan-kawasan terpencil. Perang antar suku tidak pernah terjadi lagiberkat jerih payah mereka. Kebiasaan mengayau kepala manusia sudah lama kamitinggalkan, juga agama asli. Dan hal itu terjadi tanpa memunahkan upacaraadat yang oleh gereja tidak dilarang untuk dilakukan.

Sungguh mereka banyak berbuat untuk suku dayak, termasuk saya dan seluruhkeluarga saya, yang sebagai pengikut Yesus dan Bunda Maria, segala kebutuhanhidup kami selalu dipenuhi. Oleh karena itu, untuk menanggung delapan oranganak dan seorang istri saya tidak pernah mengeluh walaupun selama lima belastahun saya sepenuhnya hanya mengabdi kepada agama Katolik selaku penginjil.Sudah tak terhitung banyaknya penduduk yang dapat saya ajak masuk gereja.Apalagi sejak saya dianugerahi amanat memimpin umat Katolik didesa Bangkaloleh gereja Sampit.
Makin menggebu-gebu semangat saya untuk mengibarkan panji-panji sang juruselamat dan menegakkan palang salib diberbagai penjuru. Saya tanamkan imanKristiani kepada masyarakat kecamatan Danau Sembuluh tanpa pandang bulu.Malah cita-cita saya tidak saja menasranikan rakyat Sampit, ibu kotaKabupaten Kotawaringin timur, melainkan seluruh pelosok Provinsi KalimantanTengah.
Mimpi yang Menakjubkan (Bertemu dengan Nabi Muhammad Saw)
Tiga tahun saya menerbangkan ayat-ayat Injil dimimbar gereja dan diberbagaipersekutuan doa didesa bangkal dan desa-desa lainnya. Kemudian sayadipercayai pula untuk mengumandangkan misi gereja dikecamatan Cempaga sejaktahun 1978. Berkat kegigihan saya, hingga hampir segenap waktu saya tersitaoleh kegiatan pelayanan rohani, saya berhasil mengajak umat dan berbagaipihak untuk bersama-sama membangun gereja yang besarnya lumayan, lengkapdengan asramanya.
Dua tahun saya mengucurkan keringat, memeras tenaga dan pikiran demikejayaan agama Katolik melalui gereja yang saya dirikan itu. Sungguh banggahati saya, sungguh mantap kaki saya. Namun dibalik kepuasan batin itu adasesuatu yang terngiang-ngiang jauh didasar sanubari saya.Entah mengapa dan dari mana datangnya tuntutan itu tidak pernah terungkapsama sekali, yaitu tanda tanya yang tak mampu saya menjawabnya meskipuntelah saya gali lewat firman-firman suci. Apakah betul yang saya tempuh berasal dari Tuhan ? Tidak kelirukah saya menyerahkan diri bulat-bulat dalam keyakinan itu ?

Kebimbangan tersebut betul-betul sangat menyiksa hidup saya dan senantiasamengusik ketentraman batin saya. Seolah-olah ada sebuah lubang pada dirisaya yang tidak mampu saya tutupi, malah saya rasa makin lama makin dalamdan lebar.

"Ya Tuhan, kalau Engkau Maha Kuasa dan Maha Penyayang, tunjukkanlahkebenaran yang sempurna," demikian ratap saya tiap malam tatkala suasanasedang lengang dan kesunyian sedang mencekam sambil saya genggam rosario(kalung salib-pen) erat-erat. Saya menggapai-gapai bagaikan hampir tenggelam ditengah-tengah samudera kehampaan. Saya berteriak nyaring ditengah gurun kesunyian. Saya merasa ditinggalkan sendirian dalam sebuah lorong gelap dan pengap setelah seberkascahaya yang tadinya saya jadikan pedoman kian buram dan hampir padam. Sayamerindukan sinar terang yang tidak menipu saya dengan bercak-bercakfatamorgana. Saya mendambakan jalan lurus menuju haribaan Tuhan yang Sejatidan Hakiki.

Tiba-tiba, pada suatu malam menjelang akhir Oktober 1980, ketika kesibukanuntuk mengabarkan Injil dan menawarkan kerajaan surga tengah mencapaipuncaknya, saya didatangi mimpi yang sangat aneh. Seorang lelaki berjenggot rapi mengunjungi saya antara tidur dan jaga.Pundak saya ditepuk dan tangan kanan saya ditariknya, Saya menoleh. Betapa takjub saya melihat sosok manusia yang begitu tampan dalam usiabayanya. Berpakaian serba putih dengan rambut berombak tertutup selembarkain halus yang juga berwarna putih, Ia tampak sangat agung dan anggun. Saya merasa damai oleh sentuhan pandang dan senyumnya.

Dituntunnya saya menjelajahi hamparan tanah yang tandus menuju sebuah gurunpasir yang luas dan gersang. Anehnya, meskipun matahari terik membakar, sayajustru terlena oleh kesejukan yang indah dan menawan. Seolah gumpalan awan besar menaungi kami berdua.

Ketika tiba ditempat tujuan, entah dimana saya tidak tahu, iamempersilahkan saya masuk kesuatu kawasan yang asing dan sakral.Saya lihat ribuan manusia berselimut putih-putih bergerak bak busa ombakmengelilingi sebuah bangunan hitam berbentuk kubus menjulang keatas membelahlangit sambil berlari-lari kecil.
Diantara mereka ada yang sedang bersujud dengan khusuk, banyak pula yangberebutan mengecup batu hitam kebiruan yang menempel di dinding kubus itu.begitu saya datang, kerumunan manusia tadi menyibakkan diri dan memberikankesempatan kepada saya untuk memeluk dan mencium batu berkilat itu sepuas hati.Amboi, alangkah harumnya, alangkah tenteramnya.

Setelah itu Ia mengarak saya bersama gemawan ketempat lain yangpemandangannya amat berbeda, tetapi suasanannya sama, penuh keagungan.Saya bertanya, "Bangunan apa yang teduh ini ?" Ia menjawab, "Ini yang dinamakan Masjid Nabawi."

Sebagai penginjil saya pernah mengenal istilah itu, sebab mempelajariagama-agama lain adalah modal untuk membeberkan kebenaran kami danmembongkar kelemahan mereka. Oleh karena itu saya terkejut. mengapa sayadibawa kemari ?

"Gundukan tanah yang ditengah itu untuk apa ?" kembali saya bertanya."Itu makam Nabi Muhammad," sahutnya.

Mendengar penjelasan itu saya pun makin kaget. Nabi Muhammad adalah pembawa ajaran Islam. Ada hubungan apa dengan saya sampai diajaknya saya berziarah kesini ? Meski beribu kebingungan menyemak dihati saya dan berbagai tanda tanyamerimbun dibenak saya, sekonyong-konyong, tanpa dimintanya saya bersimpuhdidepan kuburan yang sederhana itu.
Air mata saya menetes. Saya terharu walau pun tidak tahu mengapa bisa terharu.Saya cuma membayangkan betapa mulianya pemimpin kaum Muslimin itu yangpengikutnya ratusan juta orang, tetapi makamnya begitu bersahaja, yangajarannya ditaati umatnya, namun kematiannya tidak boleh diratapi.Saya terpana sangat lama sehingga tatkala saya sadar kembali, lelaki yangmengantar saya tadi telah menghilang kedalam kuburan itu.

Panggilan Hati
Saya ceritakan mimpi saya kepada istri dan anak-anak saya. Mereka terkesima.Istri saya berkaca-kaca; saya tidak mengerti apa sebabnya.Barulah pada malam harinya, ketika kami cuma berdua, ia berkata :"Saya yakin itu bukan sekadar mimpi. Itu panggilan. Dan kita berdosa kepadaTuhan apabila tidak mau mendatangi panggilan-Nya."
"Maksudmu ?" saya tidak paham akan maksud istri saya.
"Kita tanya kepada orang yang ahli agama Islam. Siapakah lelaki baya yangmengajak Abang itu. Dan bagaimana makna mimpi itu. Kalau memang benarmerupakan panggilan Tuhan, berarti kita harus masuk Islam," jawab istri sayatanpa ragu-ragu.

Sayalah yang justru dilanda kebimbangan, terombang-ambing dalam imanKristiani yang makin goyah. Apalagi tiap kali teringat akan salah satu surah Al-Quran yang pernah saya pelajari bahwa : Tuhanmu adalah Allah Yang Maha Tunggal, Yang Tidak Beranak dan Tidak Diperanakkan ...

Saya ingin lari menghindari dengungan batin itu. Namun keyakinan saya takcukup kuat untuk menahan deburan ayat-ayat itu. Untungnya pada tahun 1983 gereja Sampit memindahkan saya ke Medan, tugas saya kedesa Resettlement untuk mengobarkan semangat Injil pada masyarakat setempat.

Saya terima tugas itu dengan setengah hati sebab semangat Injil saya sendirisedang meluntur ketitik paling rawan. Anehnya, saya merasa bahagia menerima keadaan itu, lebih-lebih ucapan istri saya yang tak pernah lenyap dari pendengaran saya.
"Kalau mimpi itu merupakan panggilan Tuhan, kita berdosa jika tidakmendatangi-Nya. Kita harus masuk Islam."

Akhirnya, pada awal Maret 1990 saya sekeluarga mengunjungi Kantor UrusanAgama Kecamatan Mentawa Baru ketapang, sesudah lebih dulu mendapatpenjelasan dari seseorang yang saya percayai memiliki pengetahuan mendalamtentang agama islam.
Ia mengatakan bahwa lelaki dalam mimpi saya adalah Nabi Muhammad.Diterangkannya lebih lanjut bahwa tidak semua orang, termasuk kaum Muslimin,bisa memperoleh kehormatan bertemu dengan Nabi dalam mimpi.Dia meyakinkan saya bahwa mimpi itu bukan dusta, bukan kembang tidur, sebabIblis pun tak sanggup menyerupai Nabi walaupun ia bisa menyamar sebagaiMalaikat.

Itulah yang kian memantapkan tekad saya sekeluarga untuk memeluk ajaranIslam. maka dengan bimbingan Mahali, B.A. Kami mengucapkan dua kalimahsyahadat disaksikan oleh para pendahulu kami, Arkenus Rembang dan BudimanRahim, dari Kantor Departemen Agama Sampit.

Nama saya, Iselyus Uda, diganti dengan Muhammad Taufik; istri saya menjadiSiti Khadijah. Begitu pula kedelapan anak saya yang memperoleh nama baruyang diambilkan dari Al-Quran.
Sepulang dari upacara persaksian itu dada saya terasa sangat lapang dandunia makin benderang. Tengah malam saya mengangkat kedua tangan dan menggumam :"Ya Tuhan, terpujilah nama-Mu telah datang kerajaan-Mu. Syukur kepada-Mu, YaAllah, untuk anugerah kebenaran ini."

Menebus Mimpi
Sejak hari paling bahagia itu saya mulai berangan-angan kapankahpemandangan dalam mimpi saya dulu itu bisa terwujud. Saya merindukan TanahSuci tempat kelahiran Nabi dan tempat Jenazahnya dimakamkan, yaitu Mekkahdan Madinah.

Kecuali dengan Kuasa Allah, rasanya mustahil terlaksana mengingat kemampuanekonomi saya tidak secerah semasa menjadi penginjil. Akan tetapi saya tidak mengeluh. Memang disegi materi terjadi penurunan, tetapi disegi yang lain kehidupan kami bertambah makmur dan sejahtera.

Kekurangan kami sedikit kami anggap biasa, itulah ujian iman. Sebabternyata materi bukan segala-galanya. Yang penting, anak-anak dapatmelanjutkan pendidikan mereka dan kebutuhan sehari-hari kami tercukupi.Adapun hidup berlebihan bukan tujuan utama. Buat kami sudah puas dengan kayadihati dan rezeki yang halal.

Saya tidak tahu apakah keikhlasan itu diterima Tuhan, ataukah lantaransudah tertulis didalam Takdir-Nya bahwa saya sekeluarga harus menjadi Muslimdan Muslimat yang kuat.
Peristiwa yang terjadi dua pekan setelah kami masuk Islam membuat saya makinbersyukur kepada Allah, yaitu ketika Kakandepag Kotawaringin Timur,Drs. H. Wahyudi A. ghani, bertamu kerumah saya di No.19 Desa Resettlement.Ia tidak hanya bertandang, tetapi mengantarkan tebusan mimpi.

Ia mengabarkan bahwa Menteri Agama, H. Munawir Syadzali, M.A. menaruhsimpati kepada saya dan berkenan memberangkatkan kami suami istri untukmenjalani ibadah Umrah. MasyaAllah, alangkah akbarnya Engaku, alangkah luasnya kasih sayang Engkau.
Sungguh saya tidak mampu menggoreskan pena atau menggerakkan lidah gunamenggambarkan kegembiraan dan kebahagiaan saya. Tidak bisa lain yang menggugah hati Menteri Agama, seorang petinggi negara diantara 170 juta lebih bangsa Indonesia, pasti Allah yang Maha Kuasa. Tanpa kehendak-Nya mana mungkin perhatiannya terlintas kepada seorang warga desa terpencil di Kalimantan Tengah ini, padahal kegiatannya selaku menteri tidak kepalang sibuknya.

Saya dan istri langsung melakukan sujud syukur walaupun kepergian kamitertunda beberapa bulan. Sedianya kami akan diberangkatkan pada Juli 1990;namun karena terhalang oleh musibah Mina, terpaksa diundur ke bulan Januari1991.

Akhirnya kami kesampaian mewujudkan pemandangan dalam mimpi denganmelaksanakan tawaf mengelilingi Ka'bah, menunaikan sai antara Shafa danMarwah, serta berziarah kemakam Rasulullah Saw.Dikaki Tuhan, ditengah dekapan Tanah Haram ,kami memohon agar diberikekuatan dan kenikmatan iman dalam Islam. Juga kami meminta supaya Tuhanmenunjuk kami untuk menyebarkan janji-janji-Nya.

Agaknya doa kami ditempat-tempat mustajab di Mekkah dan Madinah mulaidikabulkan-Nya. Buktinya, setiba kembali dari Tanah Suci ada seoranghartawan yang tidak ingin disebut namanya, mewakafkan sebidang tanah kepadasaya. Luasnya lebih dari cukup untuk mendirikan madrasah dan sarana-saranapendidikan lainnya.

Saya berniat menghabiskan sisa umur saya untuk membayar dosa-dosa pada masasilam tatkala lima belas tahun lamanya saya bekerja keras memurtadkan umatIslam dan merayu semua orang agar mengikuti keyakinan saya kala itu.Mudah-mudahan saya mampu menerapkan pengetahuan dan pengalaman saya bagikejayaan agama yang baru saya peluk secara resmi dalam setahun ini (padasaat cerita ini diceritakan pertama kalinya-pen).
Semoga ALlah menerima tobat saya dan memudahkan jalan bagi saya, juga istridan anak-anak saya, untuk mematuhi segala perintah-Nya dan menghindari semualarangan-Nya.

Akhir cerita
Penutup, dari penulis :
Akhirnya Apa yang bisa kita ambil dari cerita diatas ? Semoga saja banyak hal-hal positif yang dapat ditauladani serta dijadikanpelajaran sebagai penguat keimanan kita semua yang setiap harinya selaludibayangi dengan kehidupan kota yang "sumpek" dan "memuakkan".Mohon maaf atas panjangnya rangkaian tulisan saya diatas, sebenarnya padamulanya akan saya bagi menjadi dua bagian, namun setelah saya telaah kembalimaka takutnya akan mengurangi makna dan "sentuhan" aslinya.

Terakhir, ada baiknya saya kutipkan beberapa ayat Al-Quran dibawah ini :
"Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu "manna" dan"salwa". Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikankepadamu. Dan tidaklah mereka menganiaya Kami, akan tetapi merekalah yangmenganiaya diri mereka sendiri."
(QS. 2:57)

"Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana ditanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapibila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun.Dandidapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanyaperhitungan amal-amalnya dengan cukup dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya."
(QS. 24:39)

"Dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan(keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yangdikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagitiap-tiap sesuatu."
(QS. 65:3)

Wassalamualaikum Wr. Wb.

No comments: