Thursday, September 30, 2004

Siapakah ??

Siapakah orang yang sibuk ?
Orang yang sibuk adalah orang yang tidak mengambil pusing akan waktu shalatnya seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman a.s.
Siapakah orang yang manis senyumannya ?
Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang di timpa musibah lalu dia berucap "Inna lillahi wa inna illaihi rooji'uun." Lalu sambil berkata, "Ya Rabbi Aku ridha dengan ketentuanMu ini", sambil mengukir senyuman.
Siapakah orang yang kaya ?
Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini.
Siapakah orang yang miskin ?
Orang yang miskin adalah orang yang tidak puas dengan nikmat yang ada dan senantiasa menumpuk-numpukkan harta.
Siapakah orang yang rugi ?
Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk melakukan ibadah dan amal-amal kebaikan.
Siapakah orang yang paling cantik ?
Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik.
Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas ?
Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa amal-amal kebaikan di mana kuburnya akan di perluaskan kemana mata memandang.
Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi menghimpit ?
Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikan lalu kuburnya menghimpitnya.
Siapakah orang yang mempunyai akal ?
Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni surga kelak karena telah menggunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka.
Siapakah orang yg bijak ?
Orang yang bijak ialah orang yg tidak membiarkan atau membuang tulisan ini begitu saja, malah dia akan menyampaikan pula pada orang lain untuk dimanfaatkan dan mengambil contoh sebagai sandaran dan pedoman kehidupan sehari-hari.



Aku Menyesal Banyak Memurtadkan Orang

Dua puluh empat tahun, itulah usiaku sekarang ini, terlahir sebagai gadis Muslimah keturunan Betawi, anak ketiga dari lima orang bersaudara. Tinggi badanku 170 cm, kulitku kuning langsat. Kata orang, aku berparas cantik (bukan dalam rangka menyombongkan diri). Tentang namaku, panggil saja “Santi” (bukan nama sebenarnya).

Sebagai gadis Betawi aku merasa risih mendengar anggapan sebagian orang tentang profil khas masyarakat kami. Mereka sering menilai, kebanyakan orang Betawi itu taat beragama, tapi sayangnya tak banyak yang mengenyam pendidikan tinggi, apalagi kaum wanitanya.

Bagai asap keluar dari bara api padam. Ya, aku anggap itu sebagai kritik positif. Kami pun tidak menafikannya. Sebab, realitanya boleh jadi demikian. Meski begitu, aku bersyukur karena keluargaku tidak masuk dalam kategori penilaian mereka. Meski kultur budaya kami sangat kental, namun kedua orangtuaku sangat perhatian terhadap pendidikan keluarga. Jujur saja, aku bersyukur dibesarkan di lingkungan keluarga Betawi yang agamis dan sangat kental nuansa pendidikannya. Rata-rata saudara-saudaraku telah menyelesaikan studinya di perguruan tinggi. Tak terkecuali aku yang dua tahun lalu telah menyelesaikan D3-ku pada bidang Komunikasi di salah satu Universitas Negeri.

Setiap orang mempunyai goresan hidup yang biasa disebut dengan “sejarah hidup”. Sejarah hidup manusia dalam kaca mata Agama tidaklah sia-sia. Satu sama lain dari manusia itu sejarahnya sudah pasti saling berbeda. Ada orang yang mempunyai sejarah keemasan yang panjang yang penuh dengan keharuman. Tentu saja yang demikian itu kelak akan menjadi kebanggaan di hari Akhirat. Sebaliknya, ada pula orang yang memiliki sejarah hidup warna-warni, bahkan ada juga yang kelam. Untuk yang terakhir ini sangat layak bila dilabelkan pada sisi kehidupan masa laluku.

Menengok sejenak ke belakang, bercermin kembali dengan merenungi apa yang telah kulakukan, maka aku hanya bisa menghela nafas panjang. Tak banyak yang dapat kubanggakan dari goresan hidup masa laluku. Bercak noda hitamku di masa silam saat aku duduk di bangku SMU sungguh tak dapat kulupakan. Hingga kini masih terngiang-ngiang dalam benak pikiranku berbagai beban dosa dan kesalahan berat saat aku ketika itu memposisikan diri sebagai informan misionaris.

Tentang profesiku sebagai intel Katolik ini pada mulanya tak banyak orang tahu, termasuk keluargaku, kecuali ibu. Beliau sangat menyesalkan sikap nekadku menyeberangi keyakinan menyimpang. Aku pun tak tahu dan tak mengerti dengan diriku, kenapa aku sampai terbawa arus pemurtadan kaum sesat itu. Mungkin, karena aku salah bergaul dan memilih teman.

Kucoba untuk mengingat-ingat kembali lembaran kusam silamku. Ya, aku masih ingat bahwa Mal sebagai pusat nongkrong anak muda gaul adalah tempat rekrutmen awalku menjelajahi dunia Nasrani yang kelam. Jumlah siswa siswi Muslim yang menjadi rekrutmen Kristen begitu banyak. Dalam sebulan bisa mencapai lima puluhan, meski akhirnya disaring menjadi dua puluhan orang atas pertimbangan, rekrutmen misonaris harus berasal dari keluarga fanatis. Tujuannya, demi memuluskan niatan busuk mereka dalam mengelabui massa Islam lainnya. Kebetulan, aku dipandang mereka sebagai orang yang berasal dari keluarga fanatik. Sedang almarhum kakekku juga adalah seorang kiai dan tokoh agamis yang kharismatik.

Begitu pandainya kaum misionaris membidik dunia anak muda sebagai terobosan aksi pemurtadan. Apa yang sedang digandrungi kawula muda, seperti ajang gaul, dunia seni, budaya dan sebagainya dimanfaatkan dan dijadikan celah oleh mereka untuk menggaet rekrutmen sebanyakk-banyaknya. Tak heran kalau akhirnya mereka mendirikan banyak LSM yang peduli dengan hobi dan kreasi anak-anak muda. Mereka pun sangat resfek dan peduli dengan berbagai masalah dan persoalan para remaja yang broken home, stress, dan kurang mendapatkan kasih sayang orangtua. Tentu saja, perangkap mereka disambut dengan tangan terbuka oleh para remaja labil ini. Tapi, biasanya untuk kriteria anak-anak remaja semacam ini hanya diarahkan untuk menjadi korban pemurtadan.

Aku sadar bahwa sejak kelas satu SMU aku tak lagi Muslimah. Sebab, mereka telah membabtisku. Kala itu kurasakan, jiwaku terlepas dan terhempas. Nilai ruhiyahku tak lagi bersemayam dalam hati dan kepribadianku. Aku benar-benar menjadi seorang yang murtad dari agama yang lurus ini. Pertemuan rutin seminggu dua kali tanpa kusadari telah mendoktrinku dan memperkuat keyakiananku yang tak lagi islami.

Aku telah terbawa arus begitu jauh. Kafa’ah (potensi)ku dalam soal lobi-melobi setiap kepala sekolah, benar-benar dimanfaatkan pihak misionaris Katolik. Kedudukan ayahku meski tidak tinggi di Depdikbud memperlancar press down yang kulakukan terhadap setiap kepala sekolah di SMU Jakarta. Setan tertawa terbahak-bahak saat aku berhasil meloloskan banyak program pemurtadan di sekolah-sekolah SMU di Jakarta. Aku tak tahu persis, sudah berapa banyak rekan-rekan remaja Muslim yang telah kuhantarkan ke jurang akidah sesat. Sebab tugasku selama itu hanya sebatas informan dan pelobi awal. Tugas selanjutnya, yaitu memasukkan program-program pemurtadan ditindaklanjuti oleh para misionaris Katolik. Yang sangat riil kurasakan di sekolahku adalah pihak Katolik telah berhasil mengondisikan sekolahku membiasakan doa bersama dengan pola cara yang tak lagi Islami.

Tugasku sebagai informan tidak berhenti sampai di situ. Pembinaku yang biasa dipanggil oleh rekan-rekanku sesama informan dengan sebutan “father” mengarahkanku untuk selalu menyadap berita dan informasi penting tentang pergerakan Islam yang makin marak di sekolah-sekolah umum. Tugasku adalah mencatat, sudah sejauh mana perkembangan gerak para aktivis Muslim di sekolah. Aku juga sempat menginformasikan kepada mereka tentang pola cara penyebaran fikrah ala kaum Muslimin di Mesir dari beberapa sekolah SMU.

Tentu saja misionaris merasa senang dengan keluguanku yang seperti kerbau dicocok hidungnya, pasrah diapakan saja dengan mereka. Meski aku berangkat dari keluarga berada dan mampu membiayaiku dan pendidikanku, tapi mereka para misionaris itu memberikan imbalan uang atas jasaku sebagai informan mereka.

Informasi demi informasi kuberikan setiap hari kepada mereka, dari hal terkecil sampai yang terbesar. Upaya gigihku ini semakin menumbuhkan kepercayaan mereka terhadapku. Sejak itu aku ditawarkan subsidi untuk biaya pendidikanku. Kata mereka, aku berhak disekolahkan mereka setinggi-tingginya, asalkan aku selalu siap diarahkan mereka.
Apa yang kulakukan selama ini akhirnya tercium oleh ibuku. Beliau sangat terkejut ketika mengetahui status agamaku yang sebenarnya dan posisiku sebagai informan Katolik. Dengan penuh kasih sayang dan sekuat tenaga ia berupaya menyadarkan aku. Tapi akidahku tak bergeming sama sekali. Kala itu aku tetap berpegang teguh sebagai seorang kristiani. Sampai akhirnya, ibuku merasa letih sendiri karena kehabisan akal untuk menasihatiku. Beliau adalah ibu terbaik sepanjang hidupku. Meski antara ibu dan anak beda akidah, beliau tetap baik terhadapku dan memperlakukan aku sebagai anak kesayangannya. Dengan linangan air mata, ia menyuruhku untuk berhijrah ke tempat saudaraku agar statusku sebagai penganut Kristen Katolik tidak diketahui ayah dan saudara-saudaraku. Hingga kini mereka memang tidak mengetahui status agamaku itu.

Aku menuruti kehendak ibu yang menginginkan aku tak serumah lagi dengannya. Aku jauh dari ibu. Sepanjang itu aku tak tahu kalau ibu ternyata begitu perhatian sekali terhadap nasibku di dunia dan akhirat. Dia sangat mengkhawatirkan aku dan tak rela kalau aku masuk neraka. Siang malam ibu berdoa agar Allah berkenan membukakan hidayah-Nya kembali untukku.

Sebelum aku murtad, kurasakan berbagai sentuhan nasihatnya yang begitu sejuk menyentuh kalbu ini. Aku masih ingat saat-saat indah bersama ibu ketika beliau mengajariku membaca al-Qur’an. Kebetulan, selain sebagai ibu rumah tangga, di luar rumah beliau berprofesi sebagai guru agama di sekolah umum (SLTP). Huruf demi huruf dilafalkannya untukku dengan penuh kesabaran. Itu dilakukan agar aku bisa membaca al-Qur’an dan ibu selalu mengharapkanku menjadi Muslimah yang shalihah, bermanfaat buat tabungan seluruh keluarga di akhirat kelak.

Terakhir kudengar kabar bahwa ibuku jatuh sakit. Waktu itu aku masih duduk di kelas dua SMU. Aku pun menjenguknya. Tapi ibu memalingkan wajahnya saat sakitnya makin parah. Ia memerintahkan saudaraku untuk menyuruhku keluar dari ruangan tidurnya. Aku tak lagi diperkenankan untuk melihat wajah kecintaanku. Melihat perlakuan ibu demikian, aku tidak merasa sakit hati. Aku sadar kalau diriku selama ini telah mengecewakan ibu dan keluarga.

Sakaratul maut menjelang ibu. Belum lagi aku sempat bergegas pergi dari pintu rumahku, ibu dipanggil ke haribaan Allah Sang Rabbul Izzati. Beliau telah meninggalkanku dengan membawa pengharapan besar, yaitu perkenan Allah atas kembalinya kesadaranku pada akidah yang lurus (Islam).

Sepeninggalan ibu, aku selalu murung dan merenung panjang. Aku mencoba menggunakan daya nalarku yang sempit ini untuk berpikir dan bermuhasabah tentang hakikat hidup ini. Akhirnya lewat renungan panjang selama kurang lebih setahun sepeninggalan ibunda tercinta, Allah SWT mengembalikan kesadaranku untuk kembali ke pangkuan Islam. Kala itu aku sudah memulai kuliahku di salah satu Universitas Negeri.

Aku bersyukur kepada Allah mendapatkan tempat kuliah yang sangat kondusif. Lingkungan kampus yang Islami ini telah menyentakkan ingatan dan kesadaranku terhadap kesalahanku selama ini. Di kampus begitu banyak aktivis Muslim dan Muslimah. Sikap dan perilaku mereka menampakkan kecerdasan emosional, intelektual, dan spiritual. Baru kusadar, ternyata Islamlah yang membentuk mereka menjadi pribadi-pribadi Muslim yang tangguh. Terbesit dalam hatiku rasa iri terhadap mereka. Hatiku mengatakan, betapa sakinahnya bila aku menjadi aktivis Muslimah yang kuat akidahnya. Mungkin nantinya bila aku seperti mereka, pemahamanku tentang Islam tak lagi keliru.

Akhirnya, tekad hati untuk bergabung dengan mereka, semakin kuat. Alhamdulillah, Allah memudahkan langkahku menuju pintu hidayah. Kehadiranku ke Islam disambut gembira oleh rekan-rekan aktivis Muslim di kampus.

Aku meminta perlindungan kepada mereka. Sebab, sejak keislamanku kembali, kaum misionaris itu tidak begitu saja membiarkanku keluar dari komunitas mereka. Beberapa kali aku diancam. Tentang perihal teror tersebut kuadukan kepada ketua aktivis kampus. Alhamdulillah, ia dan rekan-rekanku siap mensupport dan membelaku bila ada pihak-pihak misionaris yang berani berbuat macam-macam terhadapku. Sejak itu, kehidupanku kembali normal, bahkan bertambah nilai kekuatan imanku.

Waktu terus berputar mengiringi kedewasaanku dalam menyikapi ajaran agama (Islam). Aku merasa jauh lebih baik saat aku berislam atas dasar kemauan hatiku sendiri, bukan karena faktor keturunan. Pencarianku terhadap hidayah tidak sia-sia. Ada hikmah besar yang dapat kupetik, ternyata setelah aku membedakan antara Islam dan agama lain, kudapati Islam jauh lebih unggul. Kebenaran mutlak ada pada Islam.

Di usiaku yang kedua puluh empat tahun ini, ayahku memintaku untuk segera memasuki jejang rumah tangga. Teringat dengan ibu yang kala itu aku tak sempat berbakti sebagai anak shalihah karena status agamaku yang berbeda, maka aku tak ingin kekecewaan ibu itu terulang kembali kepada ayah. Aku bertekad akan memperkuat hubungan birrul walidain. Untuk itu, dengan penuh kerendahan dan keikhlasan hati, kuturuti permintaan ayahandaku.

Namun, aku dihadapkan oleh kendala. Setiap aku melakukan ta’aruf dengan calon suamiku yang rata-rata adalah aktivis Islam, aku seperti didamparkan. Mereka menolakku ketika mereka tahu tentang latar belakangku. Mereka masih meragukan keislamanku. Bahkan di antara rekan-rekanku ada yang mensinyalir bahwa kekuatan Kristen Katolik itu masih bersemayam dalam tubuh dan hatiku dengan perantara jin kafir. Kemudian mereka menyarankan aku untuk diruqyah. Beberapa kali aku diruqyah oleh salah seorang ustadz, bahkan sampai dibekam segala.

Kupahami bahwa ini adalah bagian dari ujian Allah SWT. Aku percaya bahwa Allah takkan membiarkanku sengsara karena tak sanggup menanggung fitnahan sebagai infiltran Katolik yang menyusup ke dalam salah satu pergerakan Islam. Aku yakin, kelak Dia akan menampakkan bahwa kebenaran itu adalah hak dan kebatilan itu adalah batil. Akhirnya, aku bersimpuh kepada Allah SWT, memohon ampunan atas segala kesalahanku di masa silam. Sungguh aku menyesal telah memurtadkan banyak orang.

Seperti dituturkan S kepada Ikhwan Fauzi

"Pesankan Saya, Tempat di Neraka!!"

Sebuah kisah dimusim panas yang menyengat. Seorang kolumnis majalah Al Manar mengisahkannya...Musim panas merupakan ujian yang cukup berat. Terutama bagi muslimah, untuk tetap mempertahankan pakaian kesopanannnya. Gerah dan panas tak lantas menjadikannya menggadaikan akhlak. Berbeda dengan musim dingin, dengan menutup telinga dan leher kehangatan badan bisa dijaga. Jilbab bisa sebagai multi fungsi.

Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang, Cairo-Alexandria; di sebuah mikrobus. Ada seorang perempuan muda berpakaian kurang layak untuk dideskripsikan sebagai penutup aurat. Karena menantang kesopanan. Ia duduk diujung kursi dekat pintu keluar. Tentu saja dengan cara pakaian seperti itu mengundang 'perhatian' kalau bisa dibahasakan sebagai keprihatinan sosial.Seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk disampingnya mengingatkan. Bahwa pakaian seperti itu bisa mengakibatkan sesuatu yang tak baik bagi dirinya. Disamping pakaian seperti itu juga melanggar aturan agama dan norma kesopanan.

Tahukah Anda apa respon perempuan muda tersebut? Dengan ketersinggungan yang sangat ia mengekspresikan kemarahannya. Karena merasa privasinya terusik. Hak berpakaian menurutnya adalah hak prerogatif seseorang.

"Jika memang bapak mau, ini ponsel saya. Tolong pesankan saya, tempat di neraka Tuhan Anda!! Sebuah respon yang sangat frontal. Dan sang bapak pun hanya beristighfar. Ia terus menggumamkan kalimat-kalimat Allah.

Detik-detik berikutnya suasanapun hening. Beberapa orang terlihat kelelahan dan terlelap dalam mimpinya. Tak terkecuali perempuan muda itu. Hingga sampailah perjalanan dipenghujung tujuan. Di terminal akhir mikrobus Alexandria. Kini semua penumpang bersiap-siap untuk turun. Tapi mereka terhalangi oleh perempuan muda tersebut yang masih terlihat tertidur. Ia berada didekat pintu keluar. "Bangunkan saja!" begitu kira-kira permintaan para penumpang.

Tahukah apa yang terjadi. Perempuan muda tersebut benar-benar tak bangun lagi. Ia menemui ajalnya. Dan seisi mikrobus tersebut terus beristighfar, menggumamkan kalimat Allah sebagaimana yang dilakukan bapak tua yang duduk disampingnya.

Sebuah akhir yang menakutkan. Mati dalam keadaan menantang Tuhan. Seandainya tiap orang mengetahui akhir hidupnya.... Seandainya tiap orang menyadari hidupnya bisa berakhir setiap saat... Seandainya tiap orang takut bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan yang buruk...

Seandainya tiap orang tahu bagaimana kemurkaan Allah... Sungguh Allah masih menyayangi kita yang masih terus dibimbing-Nya. Allah akan semakin mendekatkan orang-orang yang dekat denganNYA semakin dekat.

Dan mereka yang terlena seharusnya segera sadar... mumpung kesempatan itu masih ada.

Sumber: Cerita dari Mesir "Pesankan Saya, Tempat di Neraka!!"

Wednesday, September 29, 2004

100 Langkah Menuju Kesempurnaan Iman

  1. Bersyukur apabila mendapat nikmat;
  2. Sabar apabila mendapat kesulitan;
  3. Tawakal apabila mempunyai rencana/program;
  4. Ikhlas dalam segala amal perbuatan;
  5. Jangan membiarkan hati larut dalam kesedihan;
  6. Jangan menyesal atas sesuatu kegagalan;
  7. Jangan putus asa dalam menghadapi kesulitan;
  8. Jangan usil dengan kekayaan orang;
  9. Jangan hasud dan iri atas kesuksesan orang;
  10. Jangan sombong kalau memperoleh kesuksesan;
  11. Jangan tamak kepada harta;
  12. Jangan terlalu ambisius akan sesuatu kedudukan;
  13. Jangan hancur karena kezaliman;
  14. Jangan goyah karena fitnah;
  15. Jangan bekeinginan terlalu tinggi yang melebihi kemampuan diri;
  16. Jangan campuri harta dengan harta yang haram;
  17. Jangan sakiti ayah dan ibu;
  18. Jangan usir orang yang meminta-minta;
  19. Jangan sakiti anak yatim;
  20. Jauhkan diri dari dosa-dosa yang besar;
  21. Jangan membiasakan diri melakukan dosa-dosa kecil;
  22. Banyak berkunjung ke rumah Allah (masjid);
  23. Lakukan shalat dengan ikhlas dan khusyu;
  24. Lakukan shalat fardhu di awal waktu, berjamaah dan di masjid;
  25. Biasakan shalat malam;
  26. Perbanyak dzikir dan do'a kepada Allah;
  27. Lakukan puasa wajib dan puasa sunat;
  28. Sayangi dan santuni fakir miskin;
  29. Jangan ada rasa takut kecuali hanya kepada Allah;
  30. Jangan marah berlebih-lebihan;
  31. Cintailah seseorang dengan tidak berlebih-lebihan;
  32. Bersatulah karena Allah dan berpisahlah karena Allah;
  33. Berlatihlah konsentrasi pikiran;
  34. Penuhi janji apabila telah diikrarkan dan mintalah maaf apabila karena sesuatu sebab tidak dapat dipenuhi;
  35. Jangan mempunyai musuh, kecuali dengan iblis/syetan;
  36. Jangan percaya ramalan manusia;
  37. Jangan terlampau takut miskin;
  38. Hormatilah setiap orang;
  39. Jangan terlampau takut kepada manusia;
  40. Jangan sombong, takabur dan besar kepala;
  41. Bersihkan harta dari hak-hak orang lain;
  42. Berlakulah adil dalam segala urusan;
  43. Biasakan istighfar dan taubat kepada Allah;
  44. Bersihkan rumah dari patung-patung berhala;
  45. Hiasi rumah dengan bacaan Al-Quran;
  46. Perbanyak silaturahmi;
  47. Tutup aurat sesuai dengan petunjuk Islam;
  48. Bicaralah secukupnya;
  49. Beristri/bersuami kalau sudah siap segala-galanya;
  50. Hargai waktu, disiplin waktu dan manfaatkan waktu;
  51. Biasakan hidup bersih, tertib dan teratur;
  52. Jauhkan diri dari penyakit-penyakit bathin;
  53. Sediakan waktu untuk santai dengan keluarga;
  54. Makanlah secukupnya tidak kekurangan dan tidak berlebihan;
  55. Hormatilah kepada guru dan ulama;
  56. Sering-sering bershalawat kepada nabi;
  57. Cintai keluarga Nabi saw;
  58. Jangan terlalu banyak hutang;
  59. Jangan terlampau mudah berjanji;
  60. Selalu ingat akan saat kematian dan sadar bahwa kehidupan dunia adalah kehidupan sementara;
  61. Jauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat seperti mengobrol yang tidak berguna;
  62. Bergaullah dengan orang-orang shaleh;
  63. Sering bangun di penghujung malam, berdoa dan beristighfar;
  64. Lakukan ibadah haji dan umrah apabila sudah mampu;
  65. Maafkan orang lain yang berbuat salah kepada kita;
  66. Jangan dendam dan jangan ada keinginan membalas kejahatan dengan kejahatan lagi;
  67. Jangan membenci seseorang karena paham dan pendirian;
  68. Jangan benci kepada orang yang membenci kita;
  69. Berlatih untuk berterus terang dalam menentukan sesuai pilihan;
  70. Ringankan beban orang lain dan tolonglah mereka yang mendapatkan kesulitan;
  71. Jangan melukai hati orang lain;
  72. Jangan membiasakan berkata dusta;
  73. Berlakulah adil, walaupun kita sendiri akan mendapatkan kerugian;
  74. Jagalah amanah dengan penuh tanggung jawab;
  75. Laksanakan segala tugas dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan;
  76. Hormati orang lain yang lebih tua dari kita;
  77. Jangan membuka aib orang lain;
  78. Lihatlah orang yang lebih miskin daripada kita, lihat pula orang yang lebih berprestasi dari kita;
  79. Ambilah pelajaran dari pengalaman orang-orang arif dan bijaksana;
  80. Sediakan waktu untuk merenung apa-apa yang sudah dilakukan;
  81. Jangan minder karena miskin dan jangan sombong karena kaya;
  82. Jadilah manusia yang selalu bermanfaat untuk agama dan umat manusia;
  83. Kenali kekurangan diri dan kenali pula kelebihan orang lain;
  84. Jangan membuat orang lain menderita dan sengsara;
  85. Berkatalah yang baik-baik atau tidak berkata apa-apa;
  86. Hargai prestasi dan pemberian orang;
  87. Jangan habiskan waktu untuk sekedar hiburan dan kesenangan;
  88. Akrablah dengan setiap orang, walaupun yang bersangkutan tidak menyenangkan;
  89. Sediakan waktu untuk berolahraga yang sesuai dengan norma-norma agama dan kondisi diri kita;
  90. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan fisik atau mental kita menjadi terganggu;
  91. Ikutilah nasihat orang-orang yang arif dan bijaksana;
  92. Pandai-pandailah untuk melupakan kesalahan orang dan pandai-pandailah untuk melupakan jasa kita;
  93. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan orang lain terganggu, dan jangan berkata sesuatu yang dapat menyebabkan orang lain terhina;
  94. Jangan cepat percaya kepada berita jelek yang menyangkut teman kita, sebelum dicek kebenarannya;
  95. Jangan menunda-nunda pelaksanaan tugas dan kewajiban;
  96. Sambutlah uluran tangan setiap orang dengan penuh keakraban dan keramahan dan tidak berlebihan;
  97. Jangan memforsir diri untuk melakukan sesuatu yang di luar kemampuan diri;
  98. Waspadalah akan setiap ujian, cobaan, godaan dan tantangan. Jangan lari dari kenyataan kehidupan;
  99. Yakinlah bahwa setiap kebajikan akan melahirkan kebaikan dan setiap kejahatan akan melahirkan kerusakan;
  100. Jangan sukses di atas penderitaan orang dan jangan kaya dengan memiskinkan orang

Bila Aku Harus Menikah

Beberapa hari yang lalu, salah satu sahabat saya bertanya tentang kapan saya akan menggenapkan separuh dien saya. Mmhh.. pertanyaan yang berat untuk saya jawab :). Terus terang, usia saya sudah kena lampu kuning untuk ukuran standar laki-laki menikah. Bisa dibilang usia yang matang. Tapi tunggu dulu, usia seseorang tidak menjamin kematangan seseorang, baik cara pandang maupun pemikiran. Dan ukuran matang tidaknya seseorangpun tidak ada parameter/spesifikasi yang jelas.
Soal menggenapkan separuh dien, saya juga tahu kalo menikah itu sunnah Rosul. Tapi, menikah itu bukan hanya mempertemukan seorang lelaki dan seorang wanita saja. Menikah juga merupakan pertemuan dakwah, pertemuan yang akan meningkatkan ghirah perjuangan dan produktifitas dakwah sehingga terjadi persebaran dakwah yang lebih luas lagi. Tuh kan.. nikah itu bukan maen-maen ?! Ada hal yang lebih berat lagi selain kesenangan dan itu jelas-jelas akan dituntut pertanggungjawabannya dipengadilan akhir nanti.
Oke, saya akan segera menikah. Tapi calon yang seperti apa? Menurut pendapatnya Syeikh Musthafa Masyhur, Untuk membangun keluarga muslim yang dilandasi taqwa, pertama kali seorang muslim harus mencari pasangan yang baik keislamannya dan yang memahami tugas risalah hidupnya. Menjadikan pasangan hidupnya sebagai sahabat dakwah yang baik, yang selalu mengingatkan bila ia lupa, memberi dorongan dakwah dan tidak menghalanginya. Nah kan, berarti, saya harus mencari pasangan yang baik keislamannya dan memahami tugas risalah hidupnya (dengan kata lain adalah orang yang sholehah).
Soal sholehah, dulu saya menganggap, dengan sholehah saja maka sifat-sifat istimewa lainnya akan mengikuti. Ternyata tidak. Selain kriteria sholehah, kita juga harus bisa mengenali keistimewaan sang calon dimata kita. Untuk apa ? Ya.. agar hidup kita lebih berwarna dengan kehadirannya. Karena menikah bukan hanya untuk satu atau dua tahun kedepan saja, tapi bisa jadi seumur hidup kita, sepanjang nafas keluar dari ruh kita. Bisa dibayangkan, kalo ternyata sang calon tidak memiliki keistimewaan tersendiri dihati kita, bagaimana warna hidup kita kelak ?! Pucat pasi tanpa warna. Dan soal Falling in love at the first sight ?! Mmhh .. kenapa enggak ?
Begitu pula saya. Saya ingin menikah bukan semata-mata karena sang calon melihat kelebihan saya saja (kalau ada... tapi.. ada ngga ya kira-kira... ??). Saya ingin menikahi seseorang karena saya istimewa dimatanya, dapat membuat binar pelangi kebahagiaan yang tulus diwajahnya, serta dapat membumikan cinta kedalam hatinya. Dan dengan senyum tulusnya pula, dia mampu membuat hati saya bergetar penuh syukur keharuan akan anugerahNya.
Ya Rabbi, anugerahkanlah hamba salah seorang hambaMu yang sholehah yang dapat menjadikan hamba seorang suami yang sholeh, yang dapat menjadikan hamba ayahnda dari para jundi-jundiMu, yang dapat membantu hamba menegakkan dienMu, membahagiakan kedua orang tua kami, meninggalkan dunia ini dalam keadaan khusnul khatimah, dan menjadikan hamba akhlus surga .. Amin ya Allah ya robbal alamin..

Wallahualam bish showab,

Anto
disadur dari Irma (era muslim)

SHOLAT MENURUT MEDIS

Sholat Tahajjud ternyata tak hanya membuat seseorang yang melakukannya mendapatkan tempat (maqam) terpuji di sisi Allah (Qs Al-Isra:79) tapi juga sangat penting bagi dunia kedokteran.

Menurut hasil penelitian Mohammad Sholeh, dosen IAIN Surabaya, salah satu shalat sunah itu bisa membebaskan seseorang dari serangan infeksi dan penyakit kanker. Tidak percaya ? "Cobalah Anda rajin-rajin sholat tahajjud. "Jika anda melakukannya secara rutin, benar, khusuk, dan ikhlas, niscaya and terbebas dari infeksi dan kanker". Ucap Sholeh. Ayah dua anak itu bukan 'tukang obat' jalanan. Dia melontarkan pernyataanya itu dalam desertasinya yang berjudul 'Pengaruh Sholat tahajjud terhadap peningkatan Perubahan Response ketahanan Tubuh Imonologik:Suatu Pendekatan Psiko-neuroimunologi"

Dengan desertasi itu, Sholeh berhasil meraih gelar doktor dalam bidang ilmu kedokteran pada Program Pasca Sarjana Universitas Surabaya, yang dipertahankannya Selasa pekan lalu. Selama ini, menurut Sholeh, tahajjud dinilai hanya merupakan ibadah salat tambahan atau sholat sunah.

Padahal jika dilakukan secara kontinu, tepat gerakannya, khusuk dan ikhlas, secara medis sholat itu menumbuhkan respons ketahannan tubuh (imonologi) khususnya pada imonoglobin M, G, A dan limfosit-nya yang berupa persepsidan motivasi positif, serta dapat mengefektifkan kemampuan individu untuk menanggulangi masalah yang dihadapi (coping). Sholat tahajjud yang dimaksudkan Sholeh bukan sekedar menggugurkan status sholat yang muakkadah (Sunah mendekati wajib). Ia menitikberatkan pada sisi rutinitas sholat, ketepatan gerakan, kekhusukan, dan keikhlasan.

Selama ini, kata dia, ulama melihat masalah ikhlas ini sebagai persoalan mental psikis. Namun sebetulnya soal ini dapat dibuktikan dengan tekhnologi kedokteran. Ikhlas yang selama ini dipandang sebagai misteri, dapat dibuktikan secara kuantitatif melalui sekresi hormon kortisol. Parameternya, lanjut Sholeh, bisa diukur dengan kondisi tubuh. Pada kondisi normal, jumlah hormon kortisol pada pagi hari normalnya antara 38-690 nmol/liter. Sedang pada malam hari-atau setelah pukul 24:00 normalnya antara 69-345 nmol/liter.
"Kalau jumlah hormon kortisolnya normal, bisa diindikasikan orang itu tidak ikhlas karena tertekan. Begitu sebaliknya. Ujarnya seraya menegaskan temuannya ini yang membantah paradigma lama yang menganggap ajaran agama (Islam) semata-mata dogma atau doktrin. Sholeh mendasarkan temuannya itu melalui satu penelitian terhadap 41 responden sisa SMU Luqman Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah, Surabaya. Dari 41 siswa itu, hanya 23 yang sanggup bertahan menjalankan sholat tahajjudselama sebulan penuh. Setelah diuji lagi, tinggal 19 siswa yang bertahan sholat tahjjud selama dua bulan. Sholat dimulai pukul 02-00-3:30 sebanyak 11* rakaat, masing-masing dua rakaat empat kali salam plus tiga rakaat. Selanjutnya,hormon kortisol mereka diukur di tiga laboratorium di Surabaya (paramita, Prodia dan Klinika).
Hasilnya, ditemukan bahwa kondisi tubuh seseorang yang rajin bertahajjud secara ikhlas berbeda jauh dengan orang yang tidak melakukan tahajjud. Mereka yang rajin dan ikhlas bertahajud memiliki ketahanan tubuh dan kemampuan individual untuk menaggulangi masalah-masalah yangdihadapi dengan stabil.
"Jadi sholat tahajjud selain bernilai ibadah, juga sekaligus sarat dengan muatan psikologis yang dapat mempengaruhi kontrol kognisi. Dengan cara memperbaiki persepsi dan motivasi positif dan coping yang efectif, emosi yang positif dapat menghindarkan seseorang dari stress,"
Nah, menurut Sholeh, orang stress itu biasanya rentan sekali terhadap penyakit kanker dan infeksi. Dengan sholat tahajjud yang dilakukan secara rutin dan disertai perasaan ikhlas serta tidak terpaksa, seseorang akan memiliki respons imun yang baik, yang kemungkinan besar akan terhindar dari penyakit infeksi dan kanker. Dan, berdasarkan hitungan tekhnik medis menunjukan, sholat tahajjud yang dilakukan seperti itu membuat orang mempunyai ketahanan tubuh yang baik.
Sebuah bukti bahwa keterbatasan otak manusia tidak mampu mengetahui semua rahasia atas rahmat, nikmat, anugrah yang diberikan oleh ALLAH kepadanya. Haruskah kita menunggu untuk bisa masuk diakal kita ???????Seorang Doktor di Amerika telah memeluk Islam karena beberapa keajaiban yyang di temuinya di dalam penyelidikannya. Ia amat kagum dengan penemuan tersebut sehingga tidak dapat diterima oleh akal fikiran. Dia adalah seorang Doktor Neurologi. Setelah memeluk Islam dia amat yakin pengobatan secara Islam dan oleh sebab itu ia telah membuka sebuah klinik yang bernama "Pengobatan Melalui Al Qur'an" Kajian pengobatan melalui Al-Quran menggunakan obat-obatan yang digunakan seperti yangterdapat didalam Al-Quran. Di antara berpuasa, madu, biji hitam (Jadam) dan sebagainya. Ketika ditanya bagaimana dia tertarik untuk memeluk Islam maka Doktor tersebut memberitahu bahwa sewaktu kajian saraf yang dilakukan, terdapat beberapa urat saraf di dalam otak manusia ini tidak dimasuki oleh darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara yang lebih normal.
Setelah membuat kajian yang memakan waktu akhirnya dia menemukan bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak tersebut melainkan ketika seseorang tersebut bersembahyang yaitu ketika sujud. Urat tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikut kadar sembahyang 5 waktu yang diwajibkan oleh Islam.
Begitulah keagungan ciptaan Allah. Jadi barang siapa yang tidak menunaikan sembahyang maka otak tidak dapat menerima darah yang secukupnya untuk berfungsi secara normal. Oleh karena itu kejadian manusia ini sebenarnya adalah untuk menganut agama Islam "sepenuhnya" karena sifat fitrah kejadiannya memang telah dikaitkan oleh Allah dengan agamanya yang indah ini.Kesimpulannya : Makhluk Allah yang bergelar manusia yang tidak bersembahyang apalagi bukan yang beragama Islam walaupun akal mereka berfungsi secara normal tetapi sebenarnya di dalam sesuatu keadaan mereka akan hilang pertimbangan di dalam membuat keputusan secara normal.Justru itu tidak heranlah manusia ini kadang-kadang tidak segan-segan untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan fitrah kejadiannya walaupun akal mereka mengetahui perkara yang akan dilakukan tersebut adalah tidak sesuai dengan kehendak mereka karena otak tidak bisa untuk mempertimbangkan secara lebih normal. Maka tidak heranlah timbul bermacam-macam gejala-gejala sosial Masyarakat saat ini.

MENYELAMATKAN DAN HIDUP KEMBALI

Italia : Dibalik cerita Pedonor sumsum tulang belakang dan pelaku pemerkosaan akhir tahun 2002
Di suatu Koran Itali, muncullah berita pencarian orang yang istimewa : 17 Mei 1992 di parkiran mobil ke 5 Wayeli (nama kota, tak tahu aku bener engga nulisnya) , seorang wanita kulit putih diperkosa oleh seorang kulit hitam. Tak lama kemudian,sang wanita melahirkan seorang bayi perempuan berkulit hitam. Ia dan suaminya tiba-tiba saja menanggung tanggung jawab untuk memelihara anak ini.

Sayangnya, sang bayi kini menderita leukemia (kanker darah). Dan ia memerlukan transfer sumsum tulang belakang segera. Ayah kandungnya merupakan satu-satunya penyambung harapan hidupnya. Berharap agar pelaku pada waktu itu saat melihat berita ini, bersedia menghubungi Dr. Adely di RS Elisabeth.

Berita pencarian orang ini membuat seluruh masyarakat gempar. Setiap orang membicarakannya. Masalahnya adalah apakah orang hitam ini berani muncul . Padahal jelas ia akan menghadapi kesulitan besar, Jika ia berani muncul, ia akan menghadapi masalah hukum, dan ada kemungkinan merusak kehidupan rumah tangganya sendiri. Jika iatetap bersikeras untuk diam, ia sekali lagi membuat dosa yang tak terampuni. Kisah ini akan berakhir bagaimanakah?
Seorang anak perempuan yang menderita leukimia ternyata menyimpan suatu kisah yang memalukan di suatu perkampungan Itali. Martha, 35 thn, adalah wanita yang menjadi pembicaraan semua orang. Ia dan suaminya Peterson adalah warga kulit putih, tetapi diantara kedua anaknya, ternyata terdapat satu yang berkulit hitam. Hal ini menarik perhatian setiap orang disekitar mereka untuk bertanya, Martha hanya tersenyum kecil berkata pada mereka bahwa nenek berkulit hitam, dan kakeknya berkulit putih, maka anaknya Monika mendapat kemungkinan seperti ini Musim gugur 2002, Monika yang berkulit hitam terus menerus mengalami demam tinggi.
Terakhir ,Dr.Adely memvonis Monika menderita leukimia. Harapan satu-satunya hanyalah mencari pedonor sumsum tulang belakang yang paling cocok untuknya. Dokter menjelaskan lebih lanjut ? Diantara mereka yang ada hubungan darah dengan Monika merupakan cara yang paling mudah untuk menemukan pedonor tercocok. Harap seluruh anggota keluarga kalian berkumpul untuk menjalani pemeriksaan sumsum tulang belakang.?
Raut wajah Martha berubah, tapi tetap saja seluruh keluarga menjalani pemeriksaan. Hasilnya tak satupun yang cocok. Dokter memberitahu mereka, dalam kasus seperti Monika ini, mencari pedonor yang cocok sangatlah kecil kemungkinannya. Sekarang hanya ada satu cara yang paling manjur, yaitu Martha dan suaminya kembali mengandung anak lagi. Dan mendonorkan darah anak untuk Monika. Mendengar usul ini Martha tiba-tiba menjadi panik, dan berkata tanpa suara ? Tuhan..kenapa menjadi begini ? Ia menatap suaminya, sinar matanya dipenuhi ketakutan dan putus asa. Peterson mengerutkan keningnya berpikir.Dr. Adely berusaha menjelaskan pada mereka, saat ini banyak orang yang menggunakan cara ini untuk menolong nyawa para penderita leukimia, lagipula cara ini terhadap bayi yang baru dilahirkan sama sekali tak ada pengaruhnya. Hal ini hanya didengarkan oleh pasangan suami istri tersebut, dan termenung begitu lama. Terakhir mereka hanya berkata ? Biarkan kami memikirkannya kembali?
Malam kedua, Dr. Adely tengah bergiliran tugas, tiba-tiba pintu ruang kerjanya terbuka, pasangan suami-istri tersebut. Martha menggigit bibirnya keras, suaminya Peterson, menggenggam tangannya, dan berkata serius pada dokter ? Kami ada suatu hal yang perlu memberitahumu. Tapi harap Anda berjanji untuk menjaga kerahasiaan ini, karena ini merupakan rahasia kami suami-istri selama beberapa tahun.? Dr.Adely menganggukkan kepalanya.
Itu adalah 10 tahun lalu, bulan 5 1992. Waktu itu anak kami yang pertama, Eleana telah berusia 2 tahun. Martha bekerja di sebuah restoran fast food. Setiap hari pukul 10 malam baru pulang kerja. Malam itu, turun hujan lebat. Saat Martha pulang kerja, seluruh jalanan telah tiada orang satupun. Saat melalui suatu parkiran yang tak terpakai lagi. Martha mendengar suara langkah kaki, dengan ketakutan memutar kepala untuk melihat, seorang remaja berkulit hitam tengah berdiri di belakang tubuhnya. Orang tersebut menggunakan sepotong kayu, memukulnya hingga pingsan, dan memperkosanya. Saat Martha sadar, dan pulang ke rumah dengan tergesa-gesa, waktu telah menunjukkan pukul 1 malam. Waktu itu aku bagaikan gila keluar rumah mencari orang hitam itu untuk membuat perhitungan.Tapi telah tak ada bayangan orang satupun. Malam itu kami hanya dapat memeluk kepala masing-masing menahan kepedihan. Sepertinya seluruh langit runtuh.
Bicara sampai sini, Peterson telah dibanjiri air mata, Ia melanjutkan kembali ? Tak lama kemudian Martha mendapati dirinya hamil. Kami merasa sangat ketakutan, kuatir bila anak yang dikandungnya merupakan milik orang hitam tersebut. Martha berencana untuk menggugurkannya, tapi aku masih mengharapkan keberuntungan, mungkin anak yang dikandungnya adalah bayi kami. Begitulah, kami ketakutan menunggu beberapa bulan. Maret 1993, Martha melahirkan bayi perempuan, dan ia berkulit hitam. Kami begitu putus asa, pernah terpikir untuk mengirim sang anak ke panti asuhan. Tapi mendengar suara tangisnya, kami sungguh tak tega. Terlebih lagi bagaimanapun Martha telah mengandungnya, ia juga merupakan sebuah nyawa. Aku dan Martha merupakan warga yang taat, pada akhirnya kami memutuskan untuk memeliharanya, dan memberinya nama Monika.
Mata Dr.Adely juga digenangi air mata, pada akhirnya ia memahami kenapa bagi kedua suami istri tersebut kembali mengandung anak merupakan hal yang sangat mengkuatirkan. Ia berpikir sambil mengangguk-anggukkan kepala berkata ? Memang jika demikian, kalian melahirkan 10 anak sekalipun akan sulit untuk mendapatkan donor yang cocok untuk Monika? Beberapa lama kemudian, ia memandang Martha dan berkata ?Kelihatannya, kalian harus mencari ayah kandung Monika. Barangkali sumsum tulangnya, atau sumsum tulang belakang anaknya ada yang cocok untuk Monika.Tetapi, apakah kalian bersedia membiarkan ia kembali muncul dalam kehidupan kalian? Martha berkata ? Demi anak, aku bersedia berlapang dada memaafkannya. Bila ia bersedia muncul menyelamatkannya. Aku tak akan memperkarakannya. Dr.Adely merasa terkejut akankedalaman cinta sang ibu.
Berita pencarian yang istimewa ini mengakibatkan banjir pedonor sumsum tulang belakang. Terlebih lagi lewat waktu begitu lama, mau mencari sang pemerkosa dimana Martha dan Peterson mempertimbangkannya baik-baik, sebelum akhirnya memutuskan memuat berita pencarian ini di koran dengan menggunakan nama samaran. November 2002, di koran Wayeli termuat berita pencarian ini, seperti yang digambarkan sebelumnya. Berita ini memohon sang pelaku pemerkosaan waktu itu berani muncul, demi untuk menolong sebuah nyawa seorang anak perempuan penderita leukimia! Begitu berita ini keluar, tanggapan masyarakat begitu menggemparkan. Kotak surat dan telepon Dr. Adely bagaikan meledak saja, kebanjiran surat masuk dan telepon, orang-orang terus bertanya siapakah wanita ini Mereka ingin bertemu dengannya, berharap dapat memberikan bantuan padanya.
Tetapi Martha menolak semua perhatian mereka, ia tak ingin mengungkapkan identitas sebenarnya, lebih tak ingin lagi identitas Monika sebagai anak hasil pemerkosaan terungkap. Saat ini juga seluruh media penuh dengan diskusi tentang bagaimana cerita ini berakhir (surat kabar Roma) Komentar Dengan topik ? Orang hitam itu akan munculkah?
Jika orang hitam ini berani muncul, akan bagaimanakah masyarakat kita sekarang menilainya Akankah menggunakan hukum yang berlaku untuk menghakiminya Haruskah ia menerima hukuman dan cacian untuk masa lalunya, ataukah ia harus menerima pujian karena keberaniannya hari ini ? (Surat kabar Wayeli) menulis topik? Bila Anda orang berkulit hitam itu, apa tindakan yang Anda lakukan? sebagai bahan diskusi. Dan menarik berbagai pendapat akan sulitnya berada di dua pilihan ini. Bagian penjara setempat terus berupaya membantu Martha, memberikan laporan terpidana hukuman pada tahun 1992 pada RS. Dikarenakan jumlah orang berkulit hitam di kota ini hanya sedikit, maka dalam 10 tahun terakhir ini juga hanya sedikit jumlah terhukum berkulit hitam.
Mereka berkata pada Martha? Sekalipun beberapa orang bukanlah terhukum karena tindak perkosaan, tapi mungkin beberapa juga menemui hal seperti ini? Beberapa orang ini juga sebagian telah keluar penjara, sebagian lainnya masih berada di dalam penjara. Martha dan Peterson menghubungi beberapa orang ini, begitu banyak terpidana waktu itu yang bersungguh-sungguh dan antusias untuk memberikan petunjuk.Tapi sayangnya, mereka semua bukanlah orang hitam yang memperkosanya waktu itu.
Tak lama kemudian, kisah Martha menyebar ke seluruh rumah tahanan, tak sedikit terpidana yang tergerak karena kasih ibu ini, tak peduli mereka berkulit hitam maupun berkulit putih, mereka semua bersukarela mendaftar untuk menjalani pemeriksaan sumsum tulang belakang, berharap dapat mendonorkannya untuk Monika. Tapi tak satupun pedonor yang memenuhi kriteria di antara mereka.Berita pencarian ini mengharukan banyak orang, tak sedikit orang yang bersukarela untuk menjalani pemeriksaan sumsum tulang belakang, untuk mengetahui apakah dirinya memenuhi kriteria. Para sukarelawan semakin lama semakin bertambah, di Wayeli timbullah wabah untuk mendonorkan sumsum tulang belakang.Hal yang mengejutkan adalah kesediaan para sukarelawan ini menyelamatkan banyak penderita leukimia lainnya, sayangnya Monika tak termasuk diantara mereka yang beruntung.
Martha dan Peterson menantikan dengan panik kemunculan si kulit hitam. Akhirnya dua bulan telah lewat, orang ini tak muncul-muncul juga. Dengan tidak tenang, mereka mulai berpikir, mungkin orang hitam itu sudah telah meninggalkan dunia ini Mungkin ia telah meninggalkan jauh-jauh kampung halamannya. Sudah sejak lama tak berada di Itali. Mungkin ia tak bersedia merusak kehidupannya sendiri, tak ingin muncul tapi tak peduli bagaimanapun, asalkan Monika hidup sehari lagi, mereka tak rela untuk melepaskan harapan untuk mencari orang hitam itu.
Disaat sebuah jiwa merana tak menentu, harapan selalu disaat keputusasaan melanda kembali muncul. Saat itu berita pencarian juga muncul di Napulese, memporakporandakan perasaan seorang pengelola toko minuman keras berusia 30 tahun. Iaseorang kulit hitam, bernama Ajili. 17 Mei 1992 waktu itu, ia memiliki lembaran tergelam merupakan mimpi terburuknya di malam berhujan itu. Ia adalah sang peran utama dalam kisah ini. Tak seorangpun menyangka, Ajili yang sangat kaya raya itu, pernah bekerja sebagai pencuci piring panggilan. Dikarenakan orang tuanya telah meninggal sejak ia masih muda, ia yang tak pernah mengenyam dunia pendidikan terpaksa bekerja sejak dini. Ia yang begitu pandai dan cekatan, berharap dirinya sendiri bekerja dengan giat demi mendapatkan sedikit uang dan penghargaan dari orang lain. Tapi sialnya, bosnya merupakan seorang rasialis, yang selalu mendiskriminasikannya.Tak peduli segiat apapun dirinya, selalu memukul dan memakinya.
17 Mei 1992, merupakan ulang tahunnya ke 20, ia berencana untuk pulang kerja lebih awal merayakan hari ulang tahunnya. Siapa menyangka, ditengah kesibukan ia memecahkan sebuah piring. Sang bos menahan kepalanya, memaksanya untuk menelan pecahan piring.Ajili begitu marah dan memukul sang bos, lalu berlari keluar meninggalkan restoran. Ditengah kemarahannya ia bertekad untuk membalas dendam pada si kulit putih. Malam berhujan lebat, tiada seorangpun lewat, dan di parkiran ia bertemu Martha. Untuk membalaskan dendamnya akibat pendiskriminasian, iapun memperkosa sang wanita yang tak berdosa ini. Tapi selesai melakukannya, Ajili mulai panik dan ketakutan. Malam itu juga ia menggunakan uang ulang tahunnya untuk membeli tiket KA menuju Napulese, meninggalkan kota ini.
Di Napulese, ia bertemu keberuntungannya. Ajili mendapatkan pekerjaan dengan lancar di restoran milik orang Amerika. Kedua pasangan Amerika ini sangatlah mengagumi kemampuannya, dan menikahkannya dengan anak perempuan mereka, Lina, dan pada akhirnya juga mempercayainya untuk mengelola toko mereka. Beberapa tahun ini, ia yang begitu tangkas, tak hanya memajukan bisnis toko minuman keras ini, ia juga memiliki 3 anak yang lucu. Dimata pekerja lainnya dan seluruh anggota keluarga, Ajili merupakan bos yang baik, suami yang baik, ayah yang baik.
Tapi hati nuraninya tetap membuatnya tak melupakan dosa yang pernah diperbuatnya. Iaselalu memohon ampun pada Tuhan dan berharap Tuhan melindungi wanita yang pernah diperkosanya, berharap ia selalu hidup damai dan tentram. Tapi ia menyimpan rahasianya rapat-rapat, tak memberitahu seorangpun. Pagi hari itu, Ajili berkali-kali membolak-balik koran, ia terus mempertimbangkan kemungkinan dirinyalah pelaku yang dimaksud.
Sedikitpun ia tak pernah membayangkan bahwa wanita malang itu mengandung anaknya, bahkan menanggung tanggung jawab untuk memelihara dan menjaga anak yang awalnya bukanlah miliknya. Hari itu, Ajili beberapa kali mencoba menghubungi no. Telepon Dr.Adely. Tapi setiap kali, belum sempat menekan habis tombol telepon, iatelah menutupnya kembali. Hatinya terus bertentangan, bila ia bersedia mengakui semuanya, setiap orang kelak akan mengetahui sisi terburuknya ini, anak-anaknya tak akan lagi mencintainya, ia akan kehilangan keluarganya yang bahagia dan istrinya yang cantik. Juga akan kehilangan penghormatan masyarakat disekitarnya. Semua yang ia dapatkan dengan ditukar kerja kerasnya bertahun-tahun.
Malam itu, saat makan bersama, seluruh keluarga mendiskusikan kasus Martha. Sang istri, Lina berkata? Aku sangat mengagumi Martha. Bila aku diposisinya, aku tak akan memiliki keberanian untuk memelihara anak hasil perkosaan hingga dewasa. Aku lebih mengagumi lagi suami Martha, ia sungguh pria yang patut dihormati, tak disangka ia dapat menerima anak yang demikian? Ajili termenung mendengarkan pendapat istrinya, dan tiba-tiba mengajukan pertanyaan? Kalau begitu, bagaimana kau memandang pelaku pemerkosaan itu ? Sedikitpun aku tak akan memaafkannya !!! Waktu itu ia sudah membuat kesalahan, kali ini juga hanya dapat meringkuk menyelingkupi dirinya sendiri, ia benar-benar begitu rendah, begitu egois, begitu pengecut !Ia benar-benar seorang pengecut !? demikian istrinya menjawab dengan dipenuhi api kemarahan.
Ajili mendengarkan saja, tak berani mengatakan kenyataan pada istrinya. Malam itu, anaknya yang baru berusia 5 tahun begitu rewel tak bersedia tidur, untuk pertama kalinya Ajili kehilangan kesabaran dan menamparnya. Sang anak sambil menangis berkata ? Kau ayah yang jahat, aku tak mau peduli kamu lagi. Aku tak ingin kau menjadi ayahku? Hati Ajili bagai terpukul keras mendengarnya, iapun memeluk erat-erat sang anak dan berkata ? Maaf, ayah tak akan memukulmu lagi. Ayah yang salah, maafkan papa ya? Sampai sini, Ajili pun tiba-tiba menangis. Sang anak terkejut dibuatnya, dan buru-buru berkata padanya untuk menenangkan ayahnya? Baiklah, kumaafkan. Guru TK ku bilang, anak yang baik adalah anak yang mau memperbaiki kesalahannya?
Malam itu, Ajili tak dapat terlelap, merasa dirinya bagaikan terbakar dalam neraka. Dimatanya selalu terbayang kejadian malam berhujan deras itu, dan bayangan sang wanita. Ias epertinya dapat mendengarkan jerit tangis wanita itu. Tak henti-hentinya ia bertanya pada dirinya sendiri? Aku ini sebenarnya orang baik, atau orang jahat ? Mendengar bunyi napas istrinya yang teratur, iapun kehilangan seluruh keberaniannya untuk berdiri.
Hari kedua, ia hampir tak tahan lagi rasanya. Istrinya mulai merasakan adanya ketidak beresan pada dirinya, memberikan perhatian padanya dengan menanyakan apakah ada masalah. Dan ia mencari alasan tak enak badan untuk meloloskan dirinya. Pagi hari di jam kerja, sang karyawan menyapanya ramah? Selamat pagi, manager !? Mendengar itu, wajahnya tiba-tiba menjadi pucat pasi, dalam hati dipenuhi perasaan tak menentu dan rasa malu. Ia merasa dirinya hampir menjadi gila saja rasanya. Setelah berhari-hari memeriksa hati nuraninya, Ajili tak dapat lagi terus diam saja, ia pun menelepon Dr. Adely. Ia berusaha sekuat tenaga menjaga suaranya supaya tetap tenang ? Aku ingin mengetahui keadaan anak malangitu? Dr. Adely memberitahunya, keadaan sang anak sangat parah. Dr.Adely menambahkan kalimat terakhirnya berkata? Entah apa ia dapat menunggu hari kemunculan ayah kandungnya.? Kalimat terakhir ini menyentuh hati Ajili yang paling dalam, suatu perasaan hangat sebagai sang ayah mengalir keluar, bagaimanapun anak itu juga merupakan darah dagingnya sendiri ! Iapun membulatkan tekad untuk menolong Monika.
Ia telah melakukan kesalahan sekali, tak boleh kembali membiarkan dirinya meneruskan kesalahan ini. Malam hari itu juga, iapun mengobarkan keberaniannya sendiri untuk memberitahu sang istri tentang segala rahasianya. Terakhir ia berkata? Sangatlah mungkin bahwa aku adalah ayah Monika ! Aku harus menyelamatkannya? Lina sangat terkejut, marah dan terluka, mendengar semuanya, ia berteriak marah. Kau PEMBOHONG ! Malam itu juga iamembawa ketiga anak mereka, dan lari pulang ke rumah ayah ibunya. Ketika ia memberitahu mereka tentang kisah Ajili, kemarahan kedua suami-istri tersebut dengan segera mereda.
Mereka adalah dua orang tua yang penuh pengalaman hidup, mereka menasehatinya? Memang benar, kita patut marah terhadap segala tingkah laku Ajili di masa lalu. Tapi pernahkah kamu memikirkan, ia dapat mengulurkan dirinya untuk muncul, perlu berapa banyak keberanian besar. Hal ini membuktikan bahwa hati nuraninya belum sepenuhnya terkubur. Apakah kau mengharapkan seorang suami yang pernah melakukan kesalahan tapi kini bersedia memperbaiki dirinya Ataukah seorang suami yang selamanya menyimpan kebusukan ini didalamnya ? Mendengar ini Lina terpekur beberapa lama.
Pagi-pagi di hari kedua, ia langsung kembali ke sisi Ajili, menatap mata sang suami yang dipenuhi penderitaan, Lina menetapkan hatinya berkata? Ajili, pergilah menemui Dr. Adely ! Aku akan menemanimu?
3 Februari 2003, suami istri Ajili, menghubungi Dr. Adely.8 Februari, pasangan tersebut tiba di RS Elisabeth, demi untuk pemeriksaan DNA Ajili.Hasilnya Ajili benar-benar adalah ayah Monika.Ketika Martha mengetahui bahwa orang hitam pemerkosanya itu pada akhirnya berani memunculkan dirinya, iapun tak dapat menahan air matanya. Sepuluh tahun ini ia terus memendam dendam kesumat terhadap Ajili, namun saat ini ia hanya dipenuhi perasaan terharu.
Segalanya berlangsung dalam keheningan. Demi untuk melindungi pasangan Ajili dan pasangan Martha, pihak RS tidak mengungkapkan dengan jelas identitas mereka semua pada media, dan juga tak bersedia mengungkapkan keadaan sebenarnya, mereka hanya memberitahu media bahwa ayah kandung Monika telah ditemukan. Berita ini mengejutkan seluruh pemerhati berita ini.Mereka terus-menerus menelepon, menulis suratpada Dr. Adely, memohon untuk dapat menyampaikan kemarahan mereka pada orang hitam ini, sekaligus penghormatan mereka padanya. Mereka berpendapat? Barangkali ia pernah melakukan tindak pidana, namun saat ini ia seorang pahlawan !
10 Februari, kedua pasangan Martha dan suami memohon untuk dapat bertemu muka langsung dengan Ajili. Awalnya Ajili tak berani untuk menemui mereka, namun pada permohonan ketiga Martha, iapun menyetujui hal ini. 18 Februari, dalam ruang tertutup dan dirahasiakan di RS, Martha bertemu langsung dengan Ajili. Ajili baru saja memangkas rambutnya, saat ia melihat Martha, langkah kakinya terasa sangatlah berat, raut wajahnya memucat. Martha dan suaminya melangkah maju, dan mereka bersama-sama saling menjabat tangan masing-masing, sesaat ketiga orang tersebut diam tanpa suara menahan kepedihan, sebelum akhirnya air mata mereka bersama-sama mengalir. Beberapa waktu kemudian, dengan suara serak Ajili berkata: Maaf...mohon maafkan aku! Kalimat ini telah terpendam dalam hatiku selama 10 tahun.Hari ini akhirnya aku mendapat kesempatan untuk mengatakannya langsung kepadamu? Martha menjawab? Terima kasih Kau dapat muncul. Semoga Tuhan memberkati, sehingga sumsum tulang belakangmu dapat menolong putriku.?
19 Februari, dokter melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang Ajili. Untungnya, sumsum tulang belakangnya sangat cocok bagi Monika !Sang dokter berkata dengan antusias. Ini suatu keajaiban! 22 Februari 2003, sekian lama harapan masyarakat luas akhirnya terkabulkan. Monika menerima sumsum tulang belakang Ajili, dan pada akhirnya Monika telah melewati masa kritis. Satu minggu kemudian, Monika boleh keluar RS dengan sehat walafiat.Martha dan suami memaafkan Ajili sepenuhnya, dan secara khusus mengundan Ajili dan Dr. Adely datang kerumah mereka untuk merayakannya.Tapi hari itu Ajili tidak hadir, ia memohon Dr. Adely membawa suratnya bagi mereka. Dalam suratnya ia menyatakan penyesalan dan rasa malunya berkata? Aku tak ingin kembali mengganggu kehidupan tenang kalian. Aku berharap Monika berbahagia selalu hidup dan tumbuh dewasa bersama kalian. Bila kalian menghadapi kesulitan bagaimanapun, harap hubungi aku, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu kalian ! Saat ini juga, aku sangat berterima kasih pada Monika, dari dalam lubuk hatiku terdalam, dialah yang memberiku kesempatan untuk menebus dosa. Dialah yang membuatku dapat memiliki kehidupan yang benar-benar bahagia di saparoh usiaku selanjutnya. Ini adalah hadiah yang ia berikan padaku !?

Kisah Seorang Muallaf (Islamnya seorang Pendeta)

Bismillaahir rohmaanir rohiim
Assalamu 'alaikum Wr. Wb.
Preface :
Cerita dibawah ini diambil dari salah sebuah buku saku berjudulkan "Ayat-ayat penggugah Iman" terbitan PT Remaja Rosdakarya Bandung olehAbdurrahman Arroisi yang menceritakan mengenai kisah orang-orang non-muslimyang pada akhirnya karena kesadaran dan berkah Hidayah dari ALlah beralihmemeluk agama Islam.
Cerita ini Saya hadirkan disini selain untuk mengatasi "kejenuhan" dariperdebatan masalah Syiah yang sepertinya tidak kunjung selesai, juga untukmenambah tebalnya iman kita semuanya (termasuk saya sendiri) agar tetapberkeyakinan bahwa Islam is the right one !!! dan mampu menghargai Islam secara lebih tinggi lagi serta mampu mengambil hikmah dan pelajaran daricerita tersebut.
Setahu saya, posting-posting semacam ini sangat jarang kita jumpai diis-lam@, Dan semoga pula dengan hadirnya cerita ini, akan membuatrekan-rekan kita yang juga sebagai seorang Muallaf dan anggota is-lam@ dapatberbagi cerita dengan kita semua, kenapa hingga ia masuk dan memilih Islam menjadi agamanya.
NAMA SAYA ISELYUS UDA; ISTRI SAYA MARIA JUANA. LIMA BELAS TAHUN SAYA MENJADI PENGINJIL DIKALIMANTAN TENGAH SAMPAI AKHIRNYA SAYA BERTEMU DENGAN SEORANG LAKI-LAKI DALAM MIMPI. BENARKAH IA RASUL YANG TERPUJI ?

Tidak pernah terbayang saya akan bisa menginjakkan kaki dinegeri yangdirindukan Umat Islam itu. Bahkan tak pernah terpikir saya akan memelukagama yang tadinya saya benci itu. Sebab, sejak kecil saya dan istri sayabiasa hidup dilingkungan adat yang sama sekali bertentangan dengan ajaran Islam.

Memang, didalam masyarakat Dayak terdapat beberapa anak suku, yaitu Kenyah,Iban, Kayan, Bahau dan sejumlah kelompok kecil yang tersebar hampirdiseluruh Kalimantan termasuk Sabah dan Serawak diwilayah Malaysia Timur.Namun akar budaya dan kepercayaan kami snyaris tidak berbeda.

Dulu suku Dayak dikenal sebagai pengayau tengkorak manusia. Cerita itubukan dongeng semata. Memburu kepala musuh, baik sesama suku Dayak maupunsuku lain, merupakan pilar utama budaya dan kepercayaan kami lantaran kepalayang baru dipenggal sangat penting bagi terciptanya kesejahteraan seisikampung, sementara tengkorak lama makin luntur kekuatan magisnya. Untuk itudibutuhkan perburuan terus menerus yang menyebabkan sering terjadinyapeperangan, baik antar suku ataupun dengan masyarakat luar.

Jasa Penginjil
Sebetulnya agama Islam sudah tersiar dari Tanah Jawa sejak abad ke-15,terutama di Kutai dalam wilayah kerajaan Hindu Mulawarman yang kini termasukProvinsi Kalimantan Timur. Namun masyarakat Dayak tidak tertarik untukmenganut agama Islam karena kami dilarang berternak babi atau berburu celengdan memakan dagingnya. Islam juga tidak membolehkan umatnya memeliharaanjing. Padahal, babi dan anjing sudah menyatu dengan kehidupan kami dantidak mungkin terpisahkan dari upacara adat dan ritus-ritus nenek moyang.Tak seorang pun penganjur Islam yang pernah memberi tahu bahwa adakeringanan-keringanan yang tidak terlalu keras menajiskan anjing dan babi,serta tidak terlalu memaksa seseorang yang baru membaca syahadat agar segeradikhitan. Seakan-akan keringanan itu sengaja disembunyikan.
Yang kami ketahui, kalau memeluk agama Islam kami harus berpisah dariadat-istiadat dan kebiasaan lama. Sedikit saja menyimpang dan tetapmelaksanakan tradisi para orang tua, kabarnya kami akan dituduh musryik danwajib masuk neraka (?!? - pen). Bukankah itu sungguh menyakitkan dan mengerikan ? Berbeda dengan sikap para penginjil, baik dari kalangan agama Katolikmaupun Protestan. Sesudah Perang Dunia berakhir mereka datang berduyun-duyunmembawa hadiah, ilmu dan pengetahuan baru yang dapat mengubah cara hidupkami tanpa mengharu biru adat istiadat dan upacara ritual nenek moyang.Maka dari hari kehari lonceng-lonceng gereja makin membahana sampaikekawasan-kawasan terpencil. Perang antar suku tidak pernah terjadi lagiberkat jerih payah mereka. Kebiasaan mengayau kepala manusia sudah lama kamitinggalkan, juga agama asli. Dan hal itu terjadi tanpa memunahkan upacaraadat yang oleh gereja tidak dilarang untuk dilakukan.

Sungguh mereka banyak berbuat untuk suku dayak, termasuk saya dan seluruhkeluarga saya, yang sebagai pengikut Yesus dan Bunda Maria, segala kebutuhanhidup kami selalu dipenuhi. Oleh karena itu, untuk menanggung delapan oranganak dan seorang istri saya tidak pernah mengeluh walaupun selama lima belastahun saya sepenuhnya hanya mengabdi kepada agama Katolik selaku penginjil.Sudah tak terhitung banyaknya penduduk yang dapat saya ajak masuk gereja.Apalagi sejak saya dianugerahi amanat memimpin umat Katolik didesa Bangkaloleh gereja Sampit.
Makin menggebu-gebu semangat saya untuk mengibarkan panji-panji sang juruselamat dan menegakkan palang salib diberbagai penjuru. Saya tanamkan imanKristiani kepada masyarakat kecamatan Danau Sembuluh tanpa pandang bulu.Malah cita-cita saya tidak saja menasranikan rakyat Sampit, ibu kotaKabupaten Kotawaringin timur, melainkan seluruh pelosok Provinsi KalimantanTengah.
Mimpi yang Menakjubkan (Bertemu dengan Nabi Muhammad Saw)
Tiga tahun saya menerbangkan ayat-ayat Injil dimimbar gereja dan diberbagaipersekutuan doa didesa bangkal dan desa-desa lainnya. Kemudian sayadipercayai pula untuk mengumandangkan misi gereja dikecamatan Cempaga sejaktahun 1978. Berkat kegigihan saya, hingga hampir segenap waktu saya tersitaoleh kegiatan pelayanan rohani, saya berhasil mengajak umat dan berbagaipihak untuk bersama-sama membangun gereja yang besarnya lumayan, lengkapdengan asramanya.
Dua tahun saya mengucurkan keringat, memeras tenaga dan pikiran demikejayaan agama Katolik melalui gereja yang saya dirikan itu. Sungguh banggahati saya, sungguh mantap kaki saya. Namun dibalik kepuasan batin itu adasesuatu yang terngiang-ngiang jauh didasar sanubari saya.Entah mengapa dan dari mana datangnya tuntutan itu tidak pernah terungkapsama sekali, yaitu tanda tanya yang tak mampu saya menjawabnya meskipuntelah saya gali lewat firman-firman suci. Apakah betul yang saya tempuh berasal dari Tuhan ? Tidak kelirukah saya menyerahkan diri bulat-bulat dalam keyakinan itu ?

Kebimbangan tersebut betul-betul sangat menyiksa hidup saya dan senantiasamengusik ketentraman batin saya. Seolah-olah ada sebuah lubang pada dirisaya yang tidak mampu saya tutupi, malah saya rasa makin lama makin dalamdan lebar.

"Ya Tuhan, kalau Engkau Maha Kuasa dan Maha Penyayang, tunjukkanlahkebenaran yang sempurna," demikian ratap saya tiap malam tatkala suasanasedang lengang dan kesunyian sedang mencekam sambil saya genggam rosario(kalung salib-pen) erat-erat. Saya menggapai-gapai bagaikan hampir tenggelam ditengah-tengah samudera kehampaan. Saya berteriak nyaring ditengah gurun kesunyian. Saya merasa ditinggalkan sendirian dalam sebuah lorong gelap dan pengap setelah seberkascahaya yang tadinya saya jadikan pedoman kian buram dan hampir padam. Sayamerindukan sinar terang yang tidak menipu saya dengan bercak-bercakfatamorgana. Saya mendambakan jalan lurus menuju haribaan Tuhan yang Sejatidan Hakiki.

Tiba-tiba, pada suatu malam menjelang akhir Oktober 1980, ketika kesibukanuntuk mengabarkan Injil dan menawarkan kerajaan surga tengah mencapaipuncaknya, saya didatangi mimpi yang sangat aneh. Seorang lelaki berjenggot rapi mengunjungi saya antara tidur dan jaga.Pundak saya ditepuk dan tangan kanan saya ditariknya, Saya menoleh. Betapa takjub saya melihat sosok manusia yang begitu tampan dalam usiabayanya. Berpakaian serba putih dengan rambut berombak tertutup selembarkain halus yang juga berwarna putih, Ia tampak sangat agung dan anggun. Saya merasa damai oleh sentuhan pandang dan senyumnya.

Dituntunnya saya menjelajahi hamparan tanah yang tandus menuju sebuah gurunpasir yang luas dan gersang. Anehnya, meskipun matahari terik membakar, sayajustru terlena oleh kesejukan yang indah dan menawan. Seolah gumpalan awan besar menaungi kami berdua.

Ketika tiba ditempat tujuan, entah dimana saya tidak tahu, iamempersilahkan saya masuk kesuatu kawasan yang asing dan sakral.Saya lihat ribuan manusia berselimut putih-putih bergerak bak busa ombakmengelilingi sebuah bangunan hitam berbentuk kubus menjulang keatas membelahlangit sambil berlari-lari kecil.
Diantara mereka ada yang sedang bersujud dengan khusuk, banyak pula yangberebutan mengecup batu hitam kebiruan yang menempel di dinding kubus itu.begitu saya datang, kerumunan manusia tadi menyibakkan diri dan memberikankesempatan kepada saya untuk memeluk dan mencium batu berkilat itu sepuas hati.Amboi, alangkah harumnya, alangkah tenteramnya.

Setelah itu Ia mengarak saya bersama gemawan ketempat lain yangpemandangannya amat berbeda, tetapi suasanannya sama, penuh keagungan.Saya bertanya, "Bangunan apa yang teduh ini ?" Ia menjawab, "Ini yang dinamakan Masjid Nabawi."

Sebagai penginjil saya pernah mengenal istilah itu, sebab mempelajariagama-agama lain adalah modal untuk membeberkan kebenaran kami danmembongkar kelemahan mereka. Oleh karena itu saya terkejut. mengapa sayadibawa kemari ?

"Gundukan tanah yang ditengah itu untuk apa ?" kembali saya bertanya."Itu makam Nabi Muhammad," sahutnya.

Mendengar penjelasan itu saya pun makin kaget. Nabi Muhammad adalah pembawa ajaran Islam. Ada hubungan apa dengan saya sampai diajaknya saya berziarah kesini ? Meski beribu kebingungan menyemak dihati saya dan berbagai tanda tanyamerimbun dibenak saya, sekonyong-konyong, tanpa dimintanya saya bersimpuhdidepan kuburan yang sederhana itu.
Air mata saya menetes. Saya terharu walau pun tidak tahu mengapa bisa terharu.Saya cuma membayangkan betapa mulianya pemimpin kaum Muslimin itu yangpengikutnya ratusan juta orang, tetapi makamnya begitu bersahaja, yangajarannya ditaati umatnya, namun kematiannya tidak boleh diratapi.Saya terpana sangat lama sehingga tatkala saya sadar kembali, lelaki yangmengantar saya tadi telah menghilang kedalam kuburan itu.

Panggilan Hati
Saya ceritakan mimpi saya kepada istri dan anak-anak saya. Mereka terkesima.Istri saya berkaca-kaca; saya tidak mengerti apa sebabnya.Barulah pada malam harinya, ketika kami cuma berdua, ia berkata :"Saya yakin itu bukan sekadar mimpi. Itu panggilan. Dan kita berdosa kepadaTuhan apabila tidak mau mendatangi panggilan-Nya."
"Maksudmu ?" saya tidak paham akan maksud istri saya.
"Kita tanya kepada orang yang ahli agama Islam. Siapakah lelaki baya yangmengajak Abang itu. Dan bagaimana makna mimpi itu. Kalau memang benarmerupakan panggilan Tuhan, berarti kita harus masuk Islam," jawab istri sayatanpa ragu-ragu.

Sayalah yang justru dilanda kebimbangan, terombang-ambing dalam imanKristiani yang makin goyah. Apalagi tiap kali teringat akan salah satu surah Al-Quran yang pernah saya pelajari bahwa : Tuhanmu adalah Allah Yang Maha Tunggal, Yang Tidak Beranak dan Tidak Diperanakkan ...

Saya ingin lari menghindari dengungan batin itu. Namun keyakinan saya takcukup kuat untuk menahan deburan ayat-ayat itu. Untungnya pada tahun 1983 gereja Sampit memindahkan saya ke Medan, tugas saya kedesa Resettlement untuk mengobarkan semangat Injil pada masyarakat setempat.

Saya terima tugas itu dengan setengah hati sebab semangat Injil saya sendirisedang meluntur ketitik paling rawan. Anehnya, saya merasa bahagia menerima keadaan itu, lebih-lebih ucapan istri saya yang tak pernah lenyap dari pendengaran saya.
"Kalau mimpi itu merupakan panggilan Tuhan, kita berdosa jika tidakmendatangi-Nya. Kita harus masuk Islam."

Akhirnya, pada awal Maret 1990 saya sekeluarga mengunjungi Kantor UrusanAgama Kecamatan Mentawa Baru ketapang, sesudah lebih dulu mendapatpenjelasan dari seseorang yang saya percayai memiliki pengetahuan mendalamtentang agama islam.
Ia mengatakan bahwa lelaki dalam mimpi saya adalah Nabi Muhammad.Diterangkannya lebih lanjut bahwa tidak semua orang, termasuk kaum Muslimin,bisa memperoleh kehormatan bertemu dengan Nabi dalam mimpi.Dia meyakinkan saya bahwa mimpi itu bukan dusta, bukan kembang tidur, sebabIblis pun tak sanggup menyerupai Nabi walaupun ia bisa menyamar sebagaiMalaikat.

Itulah yang kian memantapkan tekad saya sekeluarga untuk memeluk ajaranIslam. maka dengan bimbingan Mahali, B.A. Kami mengucapkan dua kalimahsyahadat disaksikan oleh para pendahulu kami, Arkenus Rembang dan BudimanRahim, dari Kantor Departemen Agama Sampit.

Nama saya, Iselyus Uda, diganti dengan Muhammad Taufik; istri saya menjadiSiti Khadijah. Begitu pula kedelapan anak saya yang memperoleh nama baruyang diambilkan dari Al-Quran.
Sepulang dari upacara persaksian itu dada saya terasa sangat lapang dandunia makin benderang. Tengah malam saya mengangkat kedua tangan dan menggumam :"Ya Tuhan, terpujilah nama-Mu telah datang kerajaan-Mu. Syukur kepada-Mu, YaAllah, untuk anugerah kebenaran ini."

Menebus Mimpi
Sejak hari paling bahagia itu saya mulai berangan-angan kapankahpemandangan dalam mimpi saya dulu itu bisa terwujud. Saya merindukan TanahSuci tempat kelahiran Nabi dan tempat Jenazahnya dimakamkan, yaitu Mekkahdan Madinah.

Kecuali dengan Kuasa Allah, rasanya mustahil terlaksana mengingat kemampuanekonomi saya tidak secerah semasa menjadi penginjil. Akan tetapi saya tidak mengeluh. Memang disegi materi terjadi penurunan, tetapi disegi yang lain kehidupan kami bertambah makmur dan sejahtera.

Kekurangan kami sedikit kami anggap biasa, itulah ujian iman. Sebabternyata materi bukan segala-galanya. Yang penting, anak-anak dapatmelanjutkan pendidikan mereka dan kebutuhan sehari-hari kami tercukupi.Adapun hidup berlebihan bukan tujuan utama. Buat kami sudah puas dengan kayadihati dan rezeki yang halal.

Saya tidak tahu apakah keikhlasan itu diterima Tuhan, ataukah lantaransudah tertulis didalam Takdir-Nya bahwa saya sekeluarga harus menjadi Muslimdan Muslimat yang kuat.
Peristiwa yang terjadi dua pekan setelah kami masuk Islam membuat saya makinbersyukur kepada Allah, yaitu ketika Kakandepag Kotawaringin Timur,Drs. H. Wahyudi A. ghani, bertamu kerumah saya di No.19 Desa Resettlement.Ia tidak hanya bertandang, tetapi mengantarkan tebusan mimpi.

Ia mengabarkan bahwa Menteri Agama, H. Munawir Syadzali, M.A. menaruhsimpati kepada saya dan berkenan memberangkatkan kami suami istri untukmenjalani ibadah Umrah. MasyaAllah, alangkah akbarnya Engaku, alangkah luasnya kasih sayang Engkau.
Sungguh saya tidak mampu menggoreskan pena atau menggerakkan lidah gunamenggambarkan kegembiraan dan kebahagiaan saya. Tidak bisa lain yang menggugah hati Menteri Agama, seorang petinggi negara diantara 170 juta lebih bangsa Indonesia, pasti Allah yang Maha Kuasa. Tanpa kehendak-Nya mana mungkin perhatiannya terlintas kepada seorang warga desa terpencil di Kalimantan Tengah ini, padahal kegiatannya selaku menteri tidak kepalang sibuknya.

Saya dan istri langsung melakukan sujud syukur walaupun kepergian kamitertunda beberapa bulan. Sedianya kami akan diberangkatkan pada Juli 1990;namun karena terhalang oleh musibah Mina, terpaksa diundur ke bulan Januari1991.

Akhirnya kami kesampaian mewujudkan pemandangan dalam mimpi denganmelaksanakan tawaf mengelilingi Ka'bah, menunaikan sai antara Shafa danMarwah, serta berziarah kemakam Rasulullah Saw.Dikaki Tuhan, ditengah dekapan Tanah Haram ,kami memohon agar diberikekuatan dan kenikmatan iman dalam Islam. Juga kami meminta supaya Tuhanmenunjuk kami untuk menyebarkan janji-janji-Nya.

Agaknya doa kami ditempat-tempat mustajab di Mekkah dan Madinah mulaidikabulkan-Nya. Buktinya, setiba kembali dari Tanah Suci ada seoranghartawan yang tidak ingin disebut namanya, mewakafkan sebidang tanah kepadasaya. Luasnya lebih dari cukup untuk mendirikan madrasah dan sarana-saranapendidikan lainnya.

Saya berniat menghabiskan sisa umur saya untuk membayar dosa-dosa pada masasilam tatkala lima belas tahun lamanya saya bekerja keras memurtadkan umatIslam dan merayu semua orang agar mengikuti keyakinan saya kala itu.Mudah-mudahan saya mampu menerapkan pengetahuan dan pengalaman saya bagikejayaan agama yang baru saya peluk secara resmi dalam setahun ini (padasaat cerita ini diceritakan pertama kalinya-pen).
Semoga ALlah menerima tobat saya dan memudahkan jalan bagi saya, juga istridan anak-anak saya, untuk mematuhi segala perintah-Nya dan menghindari semualarangan-Nya.

Akhir cerita
Penutup, dari penulis :
Akhirnya Apa yang bisa kita ambil dari cerita diatas ? Semoga saja banyak hal-hal positif yang dapat ditauladani serta dijadikanpelajaran sebagai penguat keimanan kita semua yang setiap harinya selaludibayangi dengan kehidupan kota yang "sumpek" dan "memuakkan".Mohon maaf atas panjangnya rangkaian tulisan saya diatas, sebenarnya padamulanya akan saya bagi menjadi dua bagian, namun setelah saya telaah kembalimaka takutnya akan mengurangi makna dan "sentuhan" aslinya.

Terakhir, ada baiknya saya kutipkan beberapa ayat Al-Quran dibawah ini :
"Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu "manna" dan"salwa". Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikankepadamu. Dan tidaklah mereka menganiaya Kami, akan tetapi merekalah yangmenganiaya diri mereka sendiri."
(QS. 2:57)

"Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana ditanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapibila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun.Dandidapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanyaperhitungan amal-amalnya dengan cukup dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya."
(QS. 24:39)

"Dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan(keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yangdikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagitiap-tiap sesuatu."
(QS. 65:3)

Wassalamualaikum Wr. Wb.

RAHASIA UMUR KITA

Diawal zaman, Tuhan menciptakan seekor sapi. Beliau berkata kepada sang sapi "Hari ini kuciptakan kau! Sebagai sapi engkau harus pergikepadang rumput. Kau harus bekerja dibawah terik matahari sepanjanghari. Kutetapkan umurmu sekitar 50 tahun." Sang Sapi keberatan "Kehidupanku akan sangat berat selama 50 tahun. Kiranya 20 tahun cukuplah buatku. "Kukembalikan kepadamu yang 30 tahun" Maka setujulahTuhan.
Dihari kedua, Tuhan menciptakan monyet. "Hai monyet, hiburlah manusia. Aku berikan kau umur 20 tahun!" Sang monyet menjawab "What? Menghibur mereka dan membuat mereka tertawa? 10 tahun cukuplah. Kukembalikan 10 tahun padamu" Maka setujulah Tuhan.
Dihari ketiga, Tuhan menciptakan anjing. "Apa yang harus kau lakukan adalah menjaga pintu rumah majikanmu. Setiap orang mendekat kau harus menggongongnya. Untuk itu kuberikan hidupmu selama 20 tahun!" Sang anjing menolak : "Menjaga pintu sepanjang hari selama 20 tahun ? Noway! Kukembalikan 10 tahun padamu". Maka setujulah Tuhan.
Dihari keempat, Tuhan menciptakan manusia. Sabda Tuhan: "Tugasmu adalah makan, tidur, dan bersenang-senang. Inilah kehidupan. Kau akan menikmatinya. Akan kuberikan engkau umur sepanjang 20 tahun!" Sang manusia keberatan, katanya "Menikmati kehidupan selama 20 tahun? Itu terlalu pendek Tuhan. Let's make a deal. Karena Sapi mengembalikan 30 tahun usianya, lalu anjing mengembalikan 10 tahun, dan monyet mengembalikan 10 tahun usianya padamu, berikanlah semuanya itu padaku.Semua itu akan menambah masa hidupku menjadi 70 tahun. Setuju ?" Maka setujulah Tuhan.
AKIBATNYA..............................Pada 20 tahun pertama kehidupan, kita makan, tidur dan bersenang-senang. 30 tahun berikutnya, kita harus bekerja keras sepanjang hari untuk menopang keluarga kita. 10 tahun kemudian kita menghibur dan membuat cucu kita tertawa dengan berperan sebagai monyet.Dan 10 tahun berikutnya kita tinggal dirumah, duduk didepan pintu, dan menggonggong kepada orang yang lewat...

Lesson to Learn Today

I will learn that true happiness is not always to achieve my goals, but to learn to appreciate with what I have achieved.

I will learn that I should control my attitude, and not let my attitude control me.

I will learn that to be rich is not to have the most, but to need the least.

I will learn that it is futile to compare myself to others, because there is always someone better or worse than I am.

I will learn that it takes years to build trust, and a few seconds to destroy it.

I will learn that there are people who love me very much, but simply do not know how to show their feelings.

I will learn to forgive by practising forgiveness.

I will learn that I cannot make anyone love me, but learn to let myself be loved.

I will learn that what is most valuable is not what I have in my life, but who I have in my life.

I will learn that it only takes a few seconds to hurt people I love, and that it can take years to heal.

I will learn that money can buy everything but happiness.

I will learn that while at times I may be entitled to be upset, that does not give me the right to upset those around me.

I will learn that true friends are scarce, and when I have found one I have found a true treasure.

I will learn that it is not always important that I be forgiven by others, but that I forgive myself.

I will learn that I am the master of what I keep to myself and the slave of what I say.

I will learn that happiness is a decision, and decide to be happy today with what I am and what I have have, not die from envy and jealousy of what I lack.

I will learn that those who are honest with themselves without considering the consequences succeed in life.

I will learn that I will reap what I plant; if I plant gossip I will harvest suspicion, if I plant love I will harvest happiness.

Mr. Costeau sang "Discovery"

Oleh: Ir. H. Bambang Pranggono, MBA.
Sumber: Majalah Percikan Iman, Edisi 4 Tahun II
"Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi." (Q.S Al Furqan:53)
Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton acara televisi 'Discovery' pasti kenal Mr. Jacques Yves Costeau, ia seorang ahli kelautan (oceanografer) dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke berbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat film dokumenter tentang keindahan alam bawah laut untuk ditonton jutaan pemirsa di seluruh dunia.
Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemukan beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya karena tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang asin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya. Fenomena ganjil itu membuat penasaran Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari tahu penyebab terpisahnya air tawar dari air asin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berpikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.
Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan (surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez. Ayat itu berbunyi "Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laa yabghiyaan..." artinya "Dia biarkan dua lautan bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak bisa ditembus."
Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas. Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diartikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air asin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi "Yakhruju minhuma lu'lu'u wal marjaan" artinya "Keluar dari keduanya mutiara dan marjan." Padahal di muara sungai tidak ditemukan mutiara.
Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur'an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al Qur'an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera.Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahwa Al Qur'an memang sungguh-sungguh kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar.
Dengan seketika ia pun memeluk Islam. Allahu Akbar...! Mr. Costeau mendapat hidayah melalui fenomena teknologi kelautan. Maha Benar Allah yang Maha Agung. Shadaqallahu Al 'Azhim.
Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya hati manusia akan berkarat sebagaimana besi yang dikaratkan oleh air." Bila seorang bertanya, "Apakah caranya untuk menjadikan hati-hati ini bersih kembali?" Rasulullah s.a.w. bersabda, "Selalulah ingat mati dan membaca Al Quran."

Dialog Mamad dan Djadjang tentang Subsidi BBM

Kwik Kian Gie *

SEPERTI orang-orang lain, Mamad dan Djadjang banyak menonton TV yang penuh dengan acara kampanye calon presiden. Yang melakukan kampanye tentu sangat banyak ekonom terkenal dan hampir semuanya bertitel doktor.

Bahkan, banyak yang profesor. Mamad (M) dan Djadjang (D), mahasiswa Ekonomi dan baru tingkat tiga. Jadi, belum banyaklah pengetahuannya. Tetapi sedikit-sedikit, kalau hanya yang mendasar saja cukup mengerti.

Mereka tidak mengerti satu hal, yaitu tentang subsidi bahan bakar minyak (BBM). Maka, di antara mereka terjadi diskusi tentang hal ini. Diskusi berjalan sbb:

D: Mad, apakah elo perhatikan juga ketakutan para ahli ekonomi yang menjadi tim suksesnya para capres tentang meningkatnya subsidi BBM yang begitu menggila. Mereka kan terus mengatakan bagaimana presiden baru nanti
mengatasinya, siapa pun dia itu nanti yang terpilih.

M: Memang gue perhatikan Djang. Hanya saya tidak mengerti apa yang diartikan dengan subsidi?

D: Bodoh amat elo, Mad. Subsidi itu artinya sumbangan untuk tujuan tertentu. Misalnya, elo sangat membutuhkan rumah yang paling sederhana, dan harganya Rp 10 juta, tetapi elo cuma punya uang Rp 8 juta. Gue baik hati dan memberi elo kekurangan yang Rp 2 juta dengan cuma-cuma. Itu namanya gue memberi elo subsidi Rp 2 juta supaya bisa membeli rumah.

M: Jadi elo benar-benar keluar Rp 2 juta uang betulan untuk disumbangkan kepada gue?

D: Jelas dong, memangnya gue bisa mencetak uang palsu tanpa ketahuan?

M: Gue tanya ini karena para ekonom itu mengatakan bahwa pemerintah akan babak belur mengeluarkan subsidi BBM puluhan triliun rupiah. Gua tidak mengerti mengapa kalau harga BBM di pasar dunia membubung tinggi, pemerintah mesti keluar uang? Minyak bumi itu kan ada di dalam perut bumi Indonesia?

D: Iya, rumah sangat sederhana yang elo beli itu kan juga ada di Depok? Terus apa yang mau elo katakan?

M: Rumah itu milik pengembangnya, dan untuk membangun rumah itu, pengembang rumah benar-benar keluar uang Rp 9,5 juta. Dia ingin laba Rp 0,5 juta. Maka memasang harga mati Rp 10 juta.

D: Lho iya, tetapi dalam hal minyak kan tidak ada yang punya. Itu kan terdapat dalam perut bumi Indonesia yang miliknya rakyat semuanya? Kalau itu disedot sampai keluar, harganya minyak mentah itu kan tidak ada? Artinya, untuk minyak mentahnya kan tidak ada yang keluar uang?

M: Memangnya disedot pakai mulut? Untuk menyedot minyak supaya bisa keluar dari perut bumi kan butuh peralatan mahal, dan ini semuanya kan pengeluaran betulan? Masa elo katakan tidak ada uang yang keluar?

D: Ada Mad, gue memang tidak pandai seperti elo, tapi kalau dianggap tidak mengerti menyedot minyak butuh peralatan, elo menghina gue dong.

M: Terus, yang elo artikan apa?

D: Begini lho Djang. Semua biaya peralatan dan biaya untuk tenaga manusia yang harus dikeluarkan untuk menyedot minyak kita catat. Lantas biaya penggarapan sampai menjadi bensin kita tambahkan. Dalam proses itu, dihasilkan berbagai macam produk yang laku dijual. Hasil penjualannya kita kurangkan. Kan keluar sebuah angka? Angka ini pasti jauh lebih kecil dari harga bensin per liter, apakah itu premium maupun premix.

M: Susah ngomong sama elo, lha minyaknya yang disedot itulah yang paling mahal, dan oleh elo dihargai nol. Ya terang saja jauh di bawah harga bensin per liternya!

D: Kalau tidak dihargai nol, terus dihargai berapa?

M: Ya harga yang setiap harinya ditentukan oleh pasar minyak di New York dan diumumkan oleh Reuters itu, yang sekarang membubung sampai 40 dollar AS per barrel. Kalau ini ditambahkan dengan hitung-hitungan elo tadi, harganya selangit, tapi pemerintah hanya menerima Rp 1.850 untuk premium dan Rp 2.150 untuk premix. Bayangkan berapa ruginya! Menteri Keuangan mengatakan ruginya sampai di atas Rp 50 triliun!

D: Itu kan hanya betul kalau pemerintah membeli minyak mentahnya. Minyak mentah itu kan tidak dibeli, Mad? Jadi tidak ada uang yang dikeluarkan. Bagaimana bisa disebut rugi?

M: Memang, tapi seandainya dijual di pasar dunia kan menghasilkan uang sangat banyak? Sekarang kesempatan memperoleh uang sangat banyak itu hilang. Itulah yang dikatakan pemerintah rugi karena harus memberi subsidi.

D: Oh, jadi yang diartikan dengan subsidi itu tidak ada uang yang dikeluarkan, tetapi hanya kerugian di atas kertas, atau di dalam pikiran, sambil mengomel, "Sialan, kalau saja gue tidak perlu memenuhi kebutuhan bensin rakyatku sendiri,
aku bisa untung besar." Jadi begitulah kira-kira yang ada dalam pikiran Sang Menteri Keuangan, semua anggota DPR, dan para ekonom itu?

M: Iyalah, dan itu sesuai dengan teori mendalam yang mereka pelajari di sekolahan. Elo masih tingkat tiga sih, maka tidak bisa memahami yang sudah doktor, apalagi yang sudah profesor.

D: Oh, makanya Menteri Keuangan mengatakan, "Karena harga minyak di pasaran dunia melonjak tinggi, subsidi kita membengkak sekitar Rp 53 triliun. " Terus dikatakan lagi, "Dan dampak akhirnya adalah penambahan defisit anggaran
sebesar Rp 1,2 triliun saja." Tadinya sih gue bingung, subsidi bertambah begitu banyak, kok dampaknya pada defisit anggaran hanya begitu kecilnya? Eh, ternyata yang dinamakan subsidi itu tidak ada uang keluar, begitu Mad?

M: Ya Djang, itulah yang dinamakan berpikir secara abstrak. Semakin pandai orang, semakin abstrak cara berpikirnya.

D: Abstrak itu artinya apa Mad, semakin di awang-awang?

M: Lho ingat enggak bahwa dosen kita selalu mulai kuliah yang paling perdana dengan guyonan yang mengatakan bahwa kita di sini akan terus-menerus melakukan pekerjaan ilmiah. Dan yang diartikan dengan ilmiah itu sering kali adalah seni untuk membuat hal-hal sangat sederhana menjadi sangat ruwet.

D: Memang, tapi bukannya tetap saja hebat Mad, karena dengan membuat hal-hal yang ruwet itu, dia memang menunjukkan bahwa otaknya sangat pandai karena bisa merangkai begitu banyak faktor yang ruwet-ruwet itu.

M: Iya, karena di awang-awang, lantas jauh sekali hubungannya dengan perut gue. Lapar dikatakan kenyang dan kenyang dikatakan lapar.

D: Lho, apa lagi yang elo artikan?

M: Dalam hal minyak, perut bangsa Indonesia tidak terlampau lapar, tetapi digambarkan sangat lapar. Dalam hal APBN, perut rakyat lapar dikatakan kenyang.

D: Sekarang elo ngarang. Elo yang sekarang mau sok mbulet supaya gue puyeng dan menganggap elo pintar. Bukannya begitu Mad?

M: Enggak dong. Coba lihat APBN kita yang tahun 2004. Defisitnya kan dikatakan hanya Rp 24,92 triliun atau 1,2 persen dari PDB (produk domestik bruto).

D: Terus, menurut elo bagaimana?

M: Menurut gue, semua uang yang dikeluarkan betulan tanpa peduli untuk apa, termasuk untuk membayar utang dikurangkan yang masuk, tekornya kan Rp 89,9 triliun atau 4,49 persen dari PDB. Ini pengeluaran uang betulan yang
membuat perut kita sebagai rakyat kecil terasa lapar betulan, wong uang yang banyak itu harus dikeluarkan betulan. Lihat saja, membayar bunga dan utang saja sudah Rp 131,2 triliun dari seluruh anggaran negara Rp 471,03 triliun.

D: Oh, jadi dalam subsidi BBM sebenarnya perut kita kenyang digambarkan sebagai lapar. Dalam hal APBN, perut kita lapar digambarkan sebagai kenyang?

M: Menurut gue, esensinya memang begitu. Kalau bahasa kerennya, yang dinamakan subsidi itu opportunity loss atau kehilangan kesempatan. Kalau saja pemerintah menjual BBM milik rakyat Indonesia itu semuanya di pasar internasional, pemerintah memperolehnya uang buanyak sekali. Tetapi karena minyak di perut bumi itu milik rakyat, kebutuhan mereka
harus kita penuhi. Itu pun tidak gratis, tetapi harga minyak mentahnya masih dihargai cukup tinggi dibandingkan dengan ongkos produksinya tok. Ongkos produksinya tok itu hanya sekitar Rp 500 per liter. Dijualnya kan dengan harga Rp. 1.850 untuk premium dan Rp 2.150 untuk premix. Jadi pemerintah masih untung seandainya kita tidak membanding-bandingkannya dengan harga internasional.

D: Yang menentukan harga internasional itu siapa?

M: Pasar minyak di New York yang volumenya hanya 30 persen dari seluruh perdagangan minyak di dunia. Dan yang boleh menyiarkan perkembangan harga-harga itu hanya Reuters, seperti halnya dengan monopoli penyiaran harga berbagai valuta asing setiap menitnya.

D: Ah, kok fantastis begitu. Jangan-jangan elo ngawur.

M: Memang Djang, siapalah kita? Hanya mahasiswa tingkat tiga. Itu pun tidak di UI, tetapi di USC.

M: Elo pernah sekolah di University of Southern California?

D: Bukan, kita ini dua-duanya kan sedang kuliah di Universitas Sebelah (hotel) Ciputra?

M: Tapi urusannya sebenarnya lebih ruwet dari yang kita bicarakan, karena ada yang diekspor, lantas ada impor dengan kualitas rendah, lantas ada bagi hasil. Terus ada yang namanya prorata dan ada yang namanya in kind dan sebagainya. Juga ada PT Petral yang dipakai untuk nyolong segala.

D: Memang, tapi inti permasalahannya gue kira kita tidak salah. Mari kita kuliah dulu, dan kita tanyakan lebih lanjut kepada dosen kita.

*Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas
Kompas, Rabu, 22 September 2004