Wednesday, August 04, 2004


Oh Kuta.... Posted by Hello

NILAI SEBUAH PEKERJAAN

* Diperuntukkan bagi mereka yang menghargai nilai bekerjaPanas sekali rasanya siang ini.
Matahari bersinar dengan teriknya seakan-akan ingin membakar semua yang ada dalam naunganya. Sekujur tubuhku pun dipeluhi keringat, yach apalagi aku memang termasuk orang yang dengan mudah sekali dapat berkeringat terutama telapak tanganku & hal inilah yang kadangkala juga membuat aku resah. Aku berjalan dibawah panasnya mentari, menaiki tangga penyebrangan sembari membuka payung yang kubawa ditasku untuk mengurangi panas yang menerpa sekujur tubuhku & tujuanku adalah pasar disebrang jalan jatinegara ini. Kulihat dari atas jembatan penyebrangan debu beterbangan dimana-mana, angkot berhenti sembarangan ditambah asap kendaraan yang semakin menambah penuh sesaknya jalan & semakin membuat orang yang berada di sekitarnya menjadi tidak nyaman & terlihat sangat ruwet sekali. Kupikir, pantas saja sekarang ini di Jakarta banyak orang stress.
Selain harus berhadapan dengan realita kehidupan sehari-hari yang seringkali menambah semakin sulitnya beban hidup di Jakarta ditambah dengan keadaan seperti yang ada dihadapanku kali ini. Wuih, rasanyamenyebalkan & tidak nyaman tapi berhubung aku memang ada keperluan dipasar tersebut jadi aku pun datang ketempat ini.Setelah berjalan menyebrangi jembatan & masuk kedalam area pasar dibarengi keadaan panas yang seperti ini membuat aku merasa haus sekali. Kulihat ada seorang penjual minuman didepan pasar tersebut. Kuhampiri & langsung disambut ramah oleh si penjualnya."mau minum apa neng?" "aquanya bu satu" kataku lalu si ibu pun memberikan pesananku, kuambil & kuteguk minumanku untuk menghilangkan dahagaku sambil mataku tak luput memperhatikan keadaan sekelilingku. Kulihat sepertinya pasar sedang penuh pengunjung, mungkin karena ini adalah awal bulan tapi yang jelas kebanyakan mereka membeli dalam jumlah yang relatif banyak atau istilahnya memborong. Disini memang merupakan pasar yang menjual grosiran & menjual barang dengan harga yang relatif murah & dengan alasan-alasan tersebutlah banyak oranng yang membeli barang disini bahkan kebanyakan untuk dijual kembali. Kulihat disebrang warung ini ada seorang anak kecil yang menawarkan bantuan untuk mengangkut barang-barang. Oooh, aku mengerti, rupanya dia adalah seorang penjual jasa pengangkut barang. Terlihat sekali dia dengan semangatnya tanpa mengenal lelah menawarkan jasanya tersebut.
Membawa barang dari dalam pasar sampai ketempat parkir ataupun kendaraan atau mungkin tergantung keinginan dari si penyewa jasanya & yang membuatku tertarik pada anak kecil itu adalah karena diwajahnya tetap tersungging sebuah senyum yang melukiskan sebuah kepuasan atau mungkin kebahagiaan untuk semua yang sedang dia kerjakan..Tak terasa minumanku sudah habis & aku pun mulai segar kembali, keringat sudah tidak mengucur dari telapak tanganku & rasanya aku siap untuk berputar-putar mencari barang-barang yang aku perlukan dipasar tersebut. Kuhampiri si penjual "Jadi berapa bu, aqua satu" kataku saat ingin membayar minuman tersebut."2500 rupiah neng" jawab ibu tersebut dengan ramahnya.Kubuka tasku & ku raih dompetku lalu kuambil 3 lembar uang ribuan & kuserahkan padanya."wah, kembaliannya nggak ada lagi neng, 500-annya nggak ada, neng ada?" si ibu bertanya padaku."yach, saya juga nggak ada 500-an bu.. ya udah nggak apa-apa kembaliannya ambil aja bu" kataku sambil berniat berjalan meninggalkan penjual tersebut."ach jangan neng. Ibu kan jualnya cuma 2500 bukan 3000.Hmm, apa ya.. atau permen aja ya neng" si ibu menawarkan jualannya yang lain sebagai pengganti kembalian uangku, tapi karena aku sedang tidak ingin permen maka kujawablagi"nggak usah bu, n ggak pa-pa kok. Ambil aja kembaliannya". Kulihat si ibu kelihatan tidak setuju dengan jawabanku maka dia berkata "tunggu sebentar ya neng, ibu tukarkan dulu aja" dia berniat berjalan menukarkan uang tersebut. Aku berusaha mencegahnya karena kupikir pasti akan memakan waktu lama lagian biarlah cuma 500 saja begitu pikirku tapi siibu tetap bersikeras untuk mencarikan kembalianku & dia tidak mau menerima begitu saja kembalian tersebut dengan cuma-cuma tanpa menjual sesuatu pun.Akhirnya, aku pun mengalah & memilih saja menerima permen yang ditawarkannya.
Sebelum pergi aku sempat bertanya kepadanya "kenapa sich bu nggak diambil aja kembaliannya? Kan lebih baik diambil aja dari pada ibu harus berkeliling mencarinya, toch saya juga sudah rela kok" & si ibu pun tersenyum sambil menjawab "bukan sekedar rela atau tidak relanya neng tapi ibu kan disini sedang berjualan & inilah pekerjaan ibu.. berjualan makanan & minuman.. toch yang ibu jual juga sudah ada harganya jadi nggak ada alasan ibu untuk mengambil kembalian yang bukan hak ibu. Yach, rejeki sich sudah ada takarannya masing-masing neng." Aku tersenyum & sembari mengucapkan terima kasih pada si ibu aku pun mulai meninggalkan warung tersebut dengan diiringi banyak perenungan di fikiranku tentang perkataan terakhir si ibu. BEKERJA… kata itu seperti terus terngiang-ngiang ditelingaku. Aku kagum pada ibu itu, ditengah-tengah kehidupannya yang bisa dikatakan tidak berlebih atau mungkin masih berkekurangan tapi dia masih mampu menunjukkan etos kerja seorang manusia yang luhur.Dia hanya mau menerima harga yang sebanding dengan pekerjaannya & dia berusaha memberikan yang terbaik untuk pekerjaannya. Miris sekali aku memikirkan hal itu karena membayangkan mungkin etos bekerjaku pun tidak sebaik si ibu penjualan minuman itu padahal mungkin rejeki yang aku terima lebih banyak dari yang ia miliki. Satu pelajaran telah kudapat disini.
***
Alhamdulillah, barang-barang yang kucari telah kudapatkan di pasar ini meskipun aku harus berputar-putar terlebih dahulu mencarinya. Bawaanku ini memang terlihat cukup banyak & lumayan beratnya, mungkin inilah yang menyebabkan seorang anak penjual jasa pengangkut barang menawarkan jasanya."Mbak, barangnya saya bawakan mbak?!". Aku tersenyum melihat seorang anak lelaki kecil didepanku menawarkan jasanya. Dalam benakku aku sempat tertawa memikirkan seorang anak berumur sekitar hanya 7 tahun menawarkan jasa bantuannya untuk mengangkut barang-barang yang mungkin terlalu berat untuk ukurannya lagian aku juga masih mampu kok membawanya tapi yach kupikir tidak apalah sekalian berbagi rejeki dengannya. Kuberikan sekantong plastik belanjaanku yang kunilai sepadan dengan kekuatannya & sebagian lagi tetap aku bawa. "Bolehlah dek.. bawain sampe kedepan jalan raya ya" kataku sambil berjalan kearah luar pasar tersebut. Sambil berjalan aku banyak berbicara dengannya & belakangan kutahu nama anak itu adalah Ugi. Dia memang baru berumur 7 tahun & sudah masuk sekolah dasar kelas 1. Ugi bercerita tentang pekerjaannya itu yang mungkin bertujuan sama seperti kebanyakan anak kecil lainnya yang bekerja, mencari tambahan untuk hidup sehari-hari katanya, & semuanya itu dia lakukan setelah ia pulang sekolah. Ia juga bercerita bahwa rumahnya tidak jauh dari pasar tersebut & itulah sebabnya mengapa ia juga mencoba mencari tambahan rejeki disana bersama dengan ibunya yang berdagang minuman & makanan kecil di sekitar pasar tersebut.
Mendengar penuturannya aku seperti terkesima. Aku melihat bagaimana seorang anak berumur 7 tahun yang seharusnya masih bahagia bermain-main dengan kawan sebaya tapi justru bekerja untuk kelangsungan hidupnya seperti yang ia kemukakan, tanpa keluhan, tanpa penyesalan. Kulihat dimatanya masih penuh kebahagiaan walaupun ia mungkin tidak bisa menikmati kebahagiaan masa kecil seperti yang dimiliki oleh anak-anak yang lainnya.. anak-anak yang tidak perlu bekerja seperti dirinya.Tak terasa kami telah sampai diluar pasar & sesampainya dipinggir jalan raya kamipun berhenti berjalan. Ku berikan pada Ugi imbalan atas jasanya tersebut & tak disangka dia mengembalikan tiga lembar uang ribuan kepadaku sebagai kembaliannya. Kutolak kembalian tersebut. "nggak usah, simpen aja buat kamu!" tapi kulihat dia hanya menggeleng "tapi bayaran saya nggak sebesar itu mbak, makanya saya kasih kembaliannya ke mbak". Aku semakin terkesima dengan sikapnya tersebut. "wah, kamu hebat juga ya.. mbak kagum dech sama kamu karena kamu hanya mau dibayar sesuai dengan pekerjaan kamu, hmm tapi nggak pa-pa kok untuk kali ini ambil aja & anggap aja ini pemberian dari mbak dan kamu nggak boleh menolaknya yach?, dan ini juga untuk kamu" kusodorkan bungkusan kecil berisi kotak kue yang tadi juga kebeli didalam pasar tersebut. Awalnya dia menolak tapi kupaksa dan kukatakan padanya bahwa an ggap saja itu imbalan atas pekerjaannya yang lain, pekerjaan yang sangat mulia karena dia telah mengajarkanku banyak hal yang pasti justru lebih mahal dari apa yang kuberikan padanya. Inilah pelajaran lain yang kudapat hari ini.Setelah memberikan semuanya, aku tetap meminta padanya untuk menemani aku sampai aku mendapatkan kendaraan & dia setuju.
Aku bertanya padanya dari mana dia belajar semuaitu, belajar tentang makna bekerja & membantu orang tua. Dia bercerita bahwa dia belajar semuanya dari ibunya, Ia tinggal bersama dengan ibu & 2 orang adiknya yang umurnya tidak berbeda jauh dengannya. Dia harus bekerja mencari tambahan karena dia ingin membantu ibunya mencari tambahan penghasilan. Ketika aku bertanya dimana ayahnya. Dia hanya mengatakan bahwa ayahnya telah wafat ketika ia berumur 5 tahun, terserang penyakit radang paru-paru katanya. Aku terharu mendengar cerita tentang keluarganya & tentang perjuangannya menghadapi kehidupan terutama cerita tentang ibunya yang ia banggakan tersebut. Tidak ada keluh kesah dalam ceritanya & saat aku berkata ingin sekali mengenal ibunya, ia mengatakan bahwa aku telah mengenalnya. "Mbak kan tadi udah kenal sama ibu saya, itu lho mbak yang tadi mbak beli minum disana!" . "yang mana? Yang tadi didepan pintu masuk pasar? Pikiranku mulai mebayangkan si ibu penjual minuman tadi. Kulihat dia mengangguk "iya mbak… mbak tadi beli minum disitu kan?! Tadi kayaknya saya liat mbak dech disana!" sambil tangannya menunjuk kearah tempat tadi aku membeli minuman. Aku mengingat-ingat.. oh iya bukankah sewaktu aku minum disana aku memang melihat dia jug a sedang menawarkan jasanya diseberang tempat aku tersebut, ternyata tajam juga ingatan anak ini begitu pikirku. "ooh, pantas.. ibu kamu memang orang baik & mbak seneng banget karena kamu menularkan kebaikkannya. Kamu bersyukur punya ibu sepertinya & ibu kamu juga pasti bangga ya punya anak yang baik & pintar seperti kamu". Tak jauh dari tempat tersebut kulihat sebuah taksi meluncur kearahku & aku pun menyetopnya lalu Ugipun membantuku memasukkan bawaanku ke taksi & aku pun tak lupa untuk mengucapkan terima kasih padanya. "makasih ya Gi & salam buat ibu kamu". Kulihat Ugi mengangguk sambil tersenyum & taksiku pun semakin menjauh darinya, meninggalkan Ugi, ibunya & para penghuni pasar lainnya dengan ritual harian mereka yang telah meninggalkan sebuah perenungan panjang tentang makna bekerja dalam benakku.
***
Hari ini saya mendapatkan banyak hal yang berarti dalam hidup saya. Diantaranya yang paling utama adalah dari seorang ibu penjual minuman & seorang anak kecil penjual jasa pengangkut barang tersebut saya belajar tentang etos bekerja yang sesungguhnya. Mereka benar-benar pribadi yang menghargai nilai bekerja. Buat mereka, bekerja itu bukan sekedar mendapatkan upah belaka tapi lebih dari itu karena mereka juga ingin menunjukkan bahwa itulah pekerjaan mereka, itulah kemampuan mereka & mereka bangga dengan apa yang sdang mereka kerjakan. Selain materi, mereka juga punya harapan bahwa apa yang mereka kerjakan akan membawa nilai kebaikkan yang mereka anggap sebagai ibadah. Buat mereka, bekerja adalah budaya walaupun itu mungkin hanya dalam area yang kecil se kali. Walaupun harus bersusah payah, mereka tetap bahagia atas apa yang telah mereka kerjakan dalam perjuangan hidup mereka.Yach, semoga saja mereka bisa menjadikan apa yang mereka kerjakan itu sebagai salah satu ciri, citra & semangat yang terus memberikan ilham dalam perjalanan hidup mereka terutama untuk seorang anak kecil yang mungkin masih sangat jauh perjalanan hidupnya. Semoga saja anak-anak seperti Ugi akan dapat mengukir sejarah dengan tapak-tapak prestatif mereka. Seperti kata pepatah, pekerjaan itu mempertinggi derajat manusia & manusia tanpa pekerjaan hanya akan menjadi santapan nafsunya, semoga kita bisa menjadi pribadi-pribadi yang bisa menghargai sebuah pekerjaan & bisa berprestasi atas dasar hasil keringat sendiri.
Selamat Bekerja, Selamat menjalankan fitrah sebagai seorang manusia.

Cara British Airways Menghadapi Rasialisme

Kejadian di bawah ini berlangsung dalam penerbangan British Airways antara Johannesburg dan London. Seorang wanita kulit putih Afrika Selatan berusia sekitar 50 tahunan duduk di samping seorang pria berkulit hitam. Hal ini agaknya mengganggu wanita ini sehingga dia memanggil pramugari.

"Nyonya, ada masalah apa?", tanya pramugari .
"Anda tidak melihat apa yang terjadi?" tanya wanita itu. "Anda menempatkan saya di samping pria berkulit hitam. Saya keberatan duduk di samping orang yang tergolong menjijikan seperti itu. Berikan saya kursi pengganti."
"Tolong tenang dulu," jawab sang pramugari. "Hampir semua kursi dalam pesawat ini telah terisi. Akan saya lihat dulu kalau-kalau masih ada kursi yang kosong." Pramugari itu pun berlalu dan kembali lagi beberapa menit kemudian .

"Nyonya, seperti yang telah saya perkirakan, tidak ada lagi kursi kosong di kelas ekonomi. Saya sudah berbicara dengan kapten dan dia bilang kalau masih ada satu kursi kosong di kelas bisnis. Juga ada satu kursi kosong di kelas utama (first class)."

Sebelum wanita itu berkata apa-apa, pramugari itu pun melanjutkan kata-katanya: "Perusahaan kami biasanya tidak memperbolehkan penumpang dari kelas ekonomi untuk duduk di kelas utama. Namun, dalam situasi semacam ini, kapten merasa bahwa akan sangat memalukan membiarkan seorang penumpang duduk di samping penumpang lain yang begitu menjijikan."

Pramugari itu lalu berpaling kepada pria berkulit hitam itu dan berkata,"Karena itu Pak, jika AAnda berkenan, silakan kemasi bawaan Anda, dan pindahlah ke bagian kelas utama"

Seketika itu juga, penumpang lain yang masih terkejut oleh apa yang baru saja terjadi, serentak berdiri dan memberi tepuk tangan penghormatan. Sebuah cara jitu
untuk memerangi rasialisme baru saja ditunjukkan oleh British Airways.

(This is a true story.)

Monday, August 02, 2004

AKU ADA DI SINI.....

"Michael, kamu sedang tidak sibuk?" Begitulah kata pertama yang terucap ketika aku menelpon Michael, yang baru setengah tahun ini menjadi temanku. Setelah dia menjawab bahwa dia sedang tidak sibuk, mulailah aku menangis, seakan seluruh beban dan kesedihan yang ada keluar semua bersama air mata yang mengalir dengan derasnya. Lima belas menit pertama aku hanya bisa menangis dan Michael dengan sabar menemani aku dengan sekali-sekali mengeluarkan beberapa patah kata, berusaha menenangkan diriku. Setelah itu, barulah aku mulai menceritakan masalah yang sedang aku hadapi. Dia mendengarkan dengan sabar. Setelah aku selesai bercerita, barulah ia mengatakan beberapa hal untuk menanggapi masalah aku itu. Kata-katanya yang singkat dan sederhana sangat mudah aku pahami, dan semua itu secara perlahan-lahan membuat aku dapat menghadapi masalahku dengan kepala dingin, tanpa disertai luapan emosi yang berlebihan seperti yang selama ini terjadi sehingga hanya jalan buntu yang aku temui.Pada akhir pembicaraan, dia mengatakan dua buah kalimat yang benar-benar membuatku terharu, benar-benar membangkitkan semangatku lagi yang sempat jatuh ke dasar yang paling dalam karena masalahku itu. Dia hanya berkata, "Martha, saat ini kamu tidak sendiri. Ada aku yang di sini." Kalimat singkat dan sederhana, namum sangat bermakna bagi diriku pada saat itu. Di saat orang-orang yang telah lama aku kenal, yang seharusnya ada di sisiku di saat-saat sulit seperti ini justru meninggalkanku, Michael yang baru aku kenal malah menjadi orang yang paling dekat denganku saat itu. Semula aku takut ia melakukan semua itu karena ada maunya saja. Aku mempunyai beberapa pengalaman buruk mengenai hal itu.
Namun seiring dengan berjalannya waktu, ternyata dia tidak pernah mengharapkan apapun atas apa yang ia lakukan. Jarang sekali aku menemukan orang seperti dia di jaman sekarang ini. Sejak saat itu Michael menjadi temanku yang terbaik. Aku ingin seperti dia, menjadi seorang teman sejati bagi orang lain.Menjadi seorang teman berarti membuang jauh-jauh sikap egois dan melakukan sesuatu hanya untuk imbalan tertentu. Menjadi seorang teman adalah menyediakan waktu dan apapun yang bisa kita lakukan secara tulus, tanpa mengharapkan timbal balik dari orang lain. Menjadi seorang teman berarti berada di sisinya secara hati, perasaan dan pikiran, kapan dan dimanapun kita berada.Jadilah seorang Michael. Jadilah seorang teman yang sejati. Jadilah seseorang yang dapat mengatakan, "Kamu tidak sendiri. Aku ada di sini.....", tidak hanya di mulut, tapi tulus dalam hati,
pikiran dan perasaan kita.

Bicara Dengan Bahasa Hati

Tak ada musuh yang tak dapat ditaklukkan oleh cinta.
Tak ada penyakit yang tak dapat disembuhkan oleh kasih sayang.
Tak ada permusuhan yang tak dapat dimaafkan oleh ketulusan.
Tak ada kesulitan yang tak dapat dipecahkan oleh ketekunan.
Tak ada batu keras yang tak dapat dipecahkan oleh kesabaran.
Semua itu haruslah berasal dari hati anda.

Bicaralah dengan bahasa hati, maka akan sampai ke hati pula.
Kesuksesan bukan semata-mata betapa keras otot dan betapa tajam otak anda, namun juga betapa lembut hati anda dalam menjalani segala sesuatunya.
Anda tak kan dapat menghentikan tangis seorang bayi hanya dengan merengkuhnya dalam lengan yang kuat, atau, membujuknya dengan berbagai gula-gula dan kata-kata manis.

Anda harus mendekapnya hingga ia merasakan detak jantung yang tenang jauh di dalam dada anda.Mulailah dengan melembutkan hati sebelum memberikannya pada keberhasilan anda.

Gusti Alloh Ora Sare

Malam telah larut saat saya meninggalkan kantor. Telah lewat pukul 11malam. Pekerjaan yang menumpuk, membuat saya harus pulang selarut ini. Ah, hari yang menjemukan saat itu. Terlebih, setelah beberapa saat berjalan, warna langit tampak memerah. Rintik hujan mulai turun. Lengkap sudah, badan yang lelah ditambah dengan \"acara\" kehujanan.


Setengah berlari saya mencari tempat berlindung. Untunglah, penjual nasi goreng yang mangkal di pojok jalan, mempunyai tenda sederhana. Lumayan, pikir saya. Segera saya berteduh, menjumpai bapak penjual yang sendirian, ditemani rokok dan lampu petromak yang masih menyala.


Dia menyilahkan saya duduk. \"Disini saja dik, daripada kehujanan...,\" begitu katanya saat saya meminta ijin berteduh. Benar saja, hujan mulai deras, dan kami makin terlihat dalam kesunyian yang pekat. Karena merasa tak nyaman atas kebaikan bapak penjual dan tendanya, saya berkata, \"tolong bikin mie goreng pak, di makan disini saja.


Sang Bapak tersenyum, dan mulai menyiapkan tungku apinya. Dia tampak sibuk. Bumbu dan penggorengan pun telah siap untuk di racik. Tampaklah pertunjukkan sebuah pengalaman yang tak dapat diraih dalam waktu sebentar. Tangannya cekatan sekali meraih botol kecap dan segenap bumbu. Segera
saja, mie goreng yang mengepul telah terhidang. Keadaan yang semula canggung mulai hilang. Basa-basi saya bertanya, \"Wah hujannya tambah deras nih, orang-orang makin jarang yang keluar ya Pak?\" Bapak itu menoleh kearah saya, dan berkata, \"Iya dik, jadi sepi nih dagangan saya..\" katanya sambil
menghisap rokok dalam-dalam.


\"Kalau hujan begini, jadi sedikit yang beli ya Pak?\" kata saya, \"Wah, rezekinya jadi berkurang dong ya?\" Duh. Pertanyaan yang bodoh. Tentu saja, tak banyak yang membeli kalau hujan begini. Tentu, pertanyaan itu hanya akan membuat Bapak itu tambah sedih. Namun, agaknya saya keliru...


\"Gusti Allah, ora sare dik, (Allah itu tidak pernah istirahat), begitu katanya. \"Rezeki saya ada dimana-mana. Saya malah senang kalau hujan begini. Istri sama anak saya di kampung pasti dapat air buat sawah. Yah, walaupun nggak lebar, tapi lumayan lah tanahnya.\" Bapak itu melanjutkan, \"Anak saya yang disini pasti bisa ngojek payung kalau besok masih hujan...\"

Degh. Dduh, hati saya tergetar. Bapak itu benar, \"Gusti Allah ora sare\". Allah Memang Maha Kuasa, yang tak pernah istirahat buat hamba-hamba-Nya. Saya rupanya telah keliru memaknai hidup. Filsafat hidup yang saya punya, tampak tak ada artinya di depan perkataan sederhana itu. Makna nya terlampau dalam, membuat saya banyak berpikir dan menyadari kekerdilan saya di hadapan Tuhan.


Saya selalu berpikiran, bahwa hujan adalah bencana, adalah petaka bagi banyak hal. Saya selalu berpendapat, bahwa rezeki itu selalu berupa materi, dan hal nyata yang bisa digenggam dan dirasakan. Dan saya juga berpendapat, bahwa saat ada ujian yang menimpa, maka itu artinya saya Cuma harus bersabar. Namun saya keliru. Hujan, memang bisa menjadi bencana, namun rintiknya bisa menjadi anugerah bagi setiap petani. Derasnya juga adalah berkah bagi sawah-sawah yang perlu diairi. Derai hujan mungkin bisa
menjadi petaka, namun derai itu pula yang menjadi harapan bagi sebagian orang yang mengojek payung, atau mendorong mobil yang mogok.


Hmm...saya makin bergegas untuk menyelesaikan mie goreng itu. Beribu pikiran tampak seperti lintasan-lintasan cahaya yang bergerak di benak saya. \"Ya Allah, Engkau Memang Maha yang Tak Pernah Beristirahat \"Untunglah,hujan telah reda, dan sayapun telah selesai makan. Dalam perjalanan pulang, hanya kata itu yang teringat, Gusti Allah Ora Sare..... Gusti Allah Ora Sare.....


Begitulah, saya sering takjub pada hal-hal kecil yang ada di depan saya. Allah memang selalu punya banyak rahasia, dan mengingatkan kita dengan cara yang tak terduga. Selalu saja, Dia memberikan Cinta kepada saya lewat hal-hal yang sederhana. Dan hal-hal itu, kerap membuat saya menjadi semakin banyak belajar.


Dulu, saya berharap, bisa melewati tahun ini dengan hal-hal besar, dengan sesuatu yang istimewa. Saya sering berharap, saat saya bertambah usia, harus ada hal besar yang saya lampaui. Seperti tahun sebelumnya, saya
ingin ada hal yang menakjubkan saya lakukan.



Namun, rupanya tahun ini Allah punya rencana lain buat saya. Dalam setiap doa saya, sering terucap agar saya selalu dapat belajar dan memaknai hikmah kehidupan. Dan kali ini Allah pun tetap memberikan saya yang terbaik. Saya tetap belajar, dan terus belajar, walaupun bukan dengan hal-hal besar n istimewa. Aku berdoa agar diberikan kekuatan...Namun, Allah memberikanku cobaan agar aku kuat menghadapinya.


Aku berdoa agar diberikan kebijaksanaan...Namun, Allah memberikanku masalah agar aku mampu memecahkannya. Aku berdoa agar diberikan kecerdasan...Namun, Allah memberikanku otak dan pikiran agar aku dapat belajar dari-Nya.


Aku berdoa agar diberikan keberanian...Namun, Allah memberikanku marabahaya agar aku mampu menghadapinya. Aku berdoa agar diberikan cinta dan kasih sayang...Namun, Allah memberikanku orang-orang yang luka hatinya agar aku dapat berbagi dengannya. Aku berdoa agar diberikan kebahagiaan...Namun,
Allah memberikanku pintu kesempatan agar aku dapat memanfaatkannya.


Teman, terima kasih telah membaca.

Ya Allah

Ya Allah,
Rendahkanlah suaraku bagi mereka,
Perindahlah ucapanku di depan mereka.
Lunakkanlah watakku terhadap mereka dan
Lembutkanlah hatiku untuk mereka.

Ya Allah,
Berilah mereka balasan yang sebaik-baiknya
Atas didikan mereka padaku dan
Pahala yang besar
Atas kesayangan yang mereka limpahkan padaku,
Peliharalah mereka
Sebagaimana mereka memeliharaku.

Ya Allah,
Apa saja gangguan yang telah mereka rasakan,
atau kesusahan yang mereka derita karena aku,

atau hilangnya sesuatu hak mereka karena perbuatanku,
jadikanlah itu semua
Penyebab rontoknya dosa-dosa mereka,
Meningginya kedudukan mereka dan
Bertambahnya pahala kebaikan mereka dengan perkenan-Mu, ya Allah
sebab hanya Engkaulah
yang berhak membalas kejahatan dengan kebaikan berlipat ganda.

Ya Allah,
Bila magfirah-Mu telah mencapai mereka sebelumku,
Izinkanlah mereka memberi syafa'at untukku.
Tetapi jika magfirah-Mu lebih dahulu mencapai diriku,
Maka izinkahlah aku memberi syafa'at untuk mereka,
sehingga kami semua berkumpul
Bersama dengan santunan-Mu
di tempat kediaman yang dinaungi kemulian-Mu, ampunan-Mu serta
rahmat-Mu.

Sesungguhnya Engkaulah
yang memiliki Karunia Maha Agung,
serta anugerah yang tak berakhir dan
Engkaulah yang Maha Pengasih Diantara semua pengasih.


****
Mari kita kenang dosa kepada orang tua kita.
Siapa tahu hidup kita dirundung nestapa karena kedurhakaan kita.
Karena kita sudah menghisap darahnya, tenaganya, airmatanya, keringatnya.


Istighfar, istighfarlah
Barangsiapa yang matanya pernah sinis melihat orangtuanya.
Atau kata-katanya sering mengiris melukai hatinya, atau yang jarang memperdulikan dan mendoakannya.
Percayalah bahwa anak yang durhaka siksanya didahulukan didunia ini.

Istighfar yang pernah mendholimi ibu bapaknya.

Astaghfirullahal Adhiim
Astaghfirullahal Adhiim