* Diperuntukkan bagi mereka yang menghargai nilai bekerjaPanas sekali rasanya siang ini.
Matahari bersinar dengan teriknya seakan-akan ingin membakar semua yang ada dalam naunganya. Sekujur tubuhku pun dipeluhi keringat, yach apalagi aku memang termasuk orang yang dengan mudah sekali dapat berkeringat terutama telapak tanganku & hal inilah yang kadangkala juga membuat aku resah. Aku berjalan dibawah panasnya mentari, menaiki tangga penyebrangan sembari membuka payung yang kubawa ditasku untuk mengurangi panas yang menerpa sekujur tubuhku & tujuanku adalah pasar disebrang jalan jatinegara ini. Kulihat dari atas jembatan penyebrangan debu beterbangan dimana-mana, angkot berhenti sembarangan ditambah asap kendaraan yang semakin menambah penuh sesaknya jalan & semakin membuat orang yang berada di sekitarnya menjadi tidak nyaman & terlihat sangat ruwet sekali. Kupikir, pantas saja sekarang ini di Jakarta banyak orang stress.
Selain harus berhadapan dengan realita kehidupan sehari-hari yang seringkali menambah semakin sulitnya beban hidup di Jakarta ditambah dengan keadaan seperti yang ada dihadapanku kali ini. Wuih, rasanyamenyebalkan & tidak nyaman tapi berhubung aku memang ada keperluan dipasar tersebut jadi aku pun datang ketempat ini.Setelah berjalan menyebrangi jembatan & masuk kedalam area pasar dibarengi keadaan panas yang seperti ini membuat aku merasa haus sekali. Kulihat ada seorang penjual minuman didepan pasar tersebut. Kuhampiri & langsung disambut ramah oleh si penjualnya."mau minum apa neng?" "aquanya bu satu" kataku lalu si ibu pun memberikan pesananku, kuambil & kuteguk minumanku untuk menghilangkan dahagaku sambil mataku tak luput memperhatikan keadaan sekelilingku. Kulihat sepertinya pasar sedang penuh pengunjung, mungkin karena ini adalah awal bulan tapi yang jelas kebanyakan mereka membeli dalam jumlah yang relatif banyak atau istilahnya memborong. Disini memang merupakan pasar yang menjual grosiran & menjual barang dengan harga yang relatif murah & dengan alasan-alasan tersebutlah banyak oranng yang membeli barang disini bahkan kebanyakan untuk dijual kembali. Kulihat disebrang warung ini ada seorang anak kecil yang menawarkan bantuan untuk mengangkut barang-barang. Oooh, aku mengerti, rupanya dia adalah seorang penjual jasa pengangkut barang. Terlihat sekali dia dengan semangatnya tanpa mengenal lelah menawarkan jasanya tersebut.
Membawa barang dari dalam pasar sampai ketempat parkir ataupun kendaraan atau mungkin tergantung keinginan dari si penyewa jasanya & yang membuatku tertarik pada anak kecil itu adalah karena diwajahnya tetap tersungging sebuah senyum yang melukiskan sebuah kepuasan atau mungkin kebahagiaan untuk semua yang sedang dia kerjakan..Tak terasa minumanku sudah habis & aku pun mulai segar kembali, keringat sudah tidak mengucur dari telapak tanganku & rasanya aku siap untuk berputar-putar mencari barang-barang yang aku perlukan dipasar tersebut. Kuhampiri si penjual "Jadi berapa bu, aqua satu" kataku saat ingin membayar minuman tersebut."2500 rupiah neng" jawab ibu tersebut dengan ramahnya.Kubuka tasku & ku raih dompetku lalu kuambil 3 lembar uang ribuan & kuserahkan padanya."wah, kembaliannya nggak ada lagi neng, 500-annya nggak ada, neng ada?" si ibu bertanya padaku."yach, saya juga nggak ada 500-an bu.. ya udah nggak apa-apa kembaliannya ambil aja bu" kataku sambil berniat berjalan meninggalkan penjual tersebut."ach jangan neng. Ibu kan jualnya cuma 2500 bukan 3000.Hmm, apa ya.. atau permen aja ya neng" si ibu menawarkan jualannya yang lain sebagai pengganti kembalian uangku, tapi karena aku sedang tidak ingin permen maka kujawablagi"nggak usah bu, n ggak pa-pa kok. Ambil aja kembaliannya". Kulihat si ibu kelihatan tidak setuju dengan jawabanku maka dia berkata "tunggu sebentar ya neng, ibu tukarkan dulu aja" dia berniat berjalan menukarkan uang tersebut. Aku berusaha mencegahnya karena kupikir pasti akan memakan waktu lama lagian biarlah cuma 500 saja begitu pikirku tapi siibu tetap bersikeras untuk mencarikan kembalianku & dia tidak mau menerima begitu saja kembalian tersebut dengan cuma-cuma tanpa menjual sesuatu pun.Akhirnya, aku pun mengalah & memilih saja menerima permen yang ditawarkannya.
Sebelum pergi aku sempat bertanya kepadanya "kenapa sich bu nggak diambil aja kembaliannya? Kan lebih baik diambil aja dari pada ibu harus berkeliling mencarinya, toch saya juga sudah rela kok" & si ibu pun tersenyum sambil menjawab "bukan sekedar rela atau tidak relanya neng tapi ibu kan disini sedang berjualan & inilah pekerjaan ibu.. berjualan makanan & minuman.. toch yang ibu jual juga sudah ada harganya jadi nggak ada alasan ibu untuk mengambil kembalian yang bukan hak ibu. Yach, rejeki sich sudah ada takarannya masing-masing neng." Aku tersenyum & sembari mengucapkan terima kasih pada si ibu aku pun mulai meninggalkan warung tersebut dengan diiringi banyak perenungan di fikiranku tentang perkataan terakhir si ibu. BEKERJA… kata itu seperti terus terngiang-ngiang ditelingaku. Aku kagum pada ibu itu, ditengah-tengah kehidupannya yang bisa dikatakan tidak berlebih atau mungkin masih berkekurangan tapi dia masih mampu menunjukkan etos kerja seorang manusia yang luhur.Dia hanya mau menerima harga yang sebanding dengan pekerjaannya & dia berusaha memberikan yang terbaik untuk pekerjaannya. Miris sekali aku memikirkan hal itu karena membayangkan mungkin etos bekerjaku pun tidak sebaik si ibu penjualan minuman itu padahal mungkin rejeki yang aku terima lebih banyak dari yang ia miliki. Satu pelajaran telah kudapat disini.
***
Alhamdulillah, barang-barang yang kucari telah kudapatkan di pasar ini meskipun aku harus berputar-putar terlebih dahulu mencarinya. Bawaanku ini memang terlihat cukup banyak & lumayan beratnya, mungkin inilah yang menyebabkan seorang anak penjual jasa pengangkut barang menawarkan jasanya."Mbak, barangnya saya bawakan mbak?!". Aku tersenyum melihat seorang anak lelaki kecil didepanku menawarkan jasanya. Dalam benakku aku sempat tertawa memikirkan seorang anak berumur sekitar hanya 7 tahun menawarkan jasa bantuannya untuk mengangkut barang-barang yang mungkin terlalu berat untuk ukurannya lagian aku juga masih mampu kok membawanya tapi yach kupikir tidak apalah sekalian berbagi rejeki dengannya. Kuberikan sekantong plastik belanjaanku yang kunilai sepadan dengan kekuatannya & sebagian lagi tetap aku bawa. "Bolehlah dek.. bawain sampe kedepan jalan raya ya" kataku sambil berjalan kearah luar pasar tersebut. Sambil berjalan aku banyak berbicara dengannya & belakangan kutahu nama anak itu adalah Ugi. Dia memang baru berumur 7 tahun & sudah masuk sekolah dasar kelas 1. Ugi bercerita tentang pekerjaannya itu yang mungkin bertujuan sama seperti kebanyakan anak kecil lainnya yang bekerja, mencari tambahan untuk hidup sehari-hari katanya, & semuanya itu dia lakukan setelah ia pulang sekolah. Ia juga bercerita bahwa rumahnya tidak jauh dari pasar tersebut & itulah sebabnya mengapa ia juga mencoba mencari tambahan rejeki disana bersama dengan ibunya yang berdagang minuman & makanan kecil di sekitar pasar tersebut.
Mendengar penuturannya aku seperti terkesima. Aku melihat bagaimana seorang anak berumur 7 tahun yang seharusnya masih bahagia bermain-main dengan kawan sebaya tapi justru bekerja untuk kelangsungan hidupnya seperti yang ia kemukakan, tanpa keluhan, tanpa penyesalan. Kulihat dimatanya masih penuh kebahagiaan walaupun ia mungkin tidak bisa menikmati kebahagiaan masa kecil seperti yang dimiliki oleh anak-anak yang lainnya.. anak-anak yang tidak perlu bekerja seperti dirinya.Tak terasa kami telah sampai diluar pasar & sesampainya dipinggir jalan raya kamipun berhenti berjalan. Ku berikan pada Ugi imbalan atas jasanya tersebut & tak disangka dia mengembalikan tiga lembar uang ribuan kepadaku sebagai kembaliannya. Kutolak kembalian tersebut. "nggak usah, simpen aja buat kamu!" tapi kulihat dia hanya menggeleng "tapi bayaran saya nggak sebesar itu mbak, makanya saya kasih kembaliannya ke mbak". Aku semakin terkesima dengan sikapnya tersebut. "wah, kamu hebat juga ya.. mbak kagum dech sama kamu karena kamu hanya mau dibayar sesuai dengan pekerjaan kamu, hmm tapi nggak pa-pa kok untuk kali ini ambil aja & anggap aja ini pemberian dari mbak dan kamu nggak boleh menolaknya yach?, dan ini juga untuk kamu" kusodorkan bungkusan kecil berisi kotak kue yang tadi juga kebeli didalam pasar tersebut. Awalnya dia menolak tapi kupaksa dan kukatakan padanya bahwa an ggap saja itu imbalan atas pekerjaannya yang lain, pekerjaan yang sangat mulia karena dia telah mengajarkanku banyak hal yang pasti justru lebih mahal dari apa yang kuberikan padanya. Inilah pelajaran lain yang kudapat hari ini.Setelah memberikan semuanya, aku tetap meminta padanya untuk menemani aku sampai aku mendapatkan kendaraan & dia setuju.
Aku bertanya padanya dari mana dia belajar semuaitu, belajar tentang makna bekerja & membantu orang tua. Dia bercerita bahwa dia belajar semuanya dari ibunya, Ia tinggal bersama dengan ibu & 2 orang adiknya yang umurnya tidak berbeda jauh dengannya. Dia harus bekerja mencari tambahan karena dia ingin membantu ibunya mencari tambahan penghasilan. Ketika aku bertanya dimana ayahnya. Dia hanya mengatakan bahwa ayahnya telah wafat ketika ia berumur 5 tahun, terserang penyakit radang paru-paru katanya. Aku terharu mendengar cerita tentang keluarganya & tentang perjuangannya menghadapi kehidupan terutama cerita tentang ibunya yang ia banggakan tersebut. Tidak ada keluh kesah dalam ceritanya & saat aku berkata ingin sekali mengenal ibunya, ia mengatakan bahwa aku telah mengenalnya. "Mbak kan tadi udah kenal sama ibu saya, itu lho mbak yang tadi mbak beli minum disana!" . "yang mana? Yang tadi didepan pintu masuk pasar? Pikiranku mulai mebayangkan si ibu penjual minuman tadi. Kulihat dia mengangguk "iya mbak… mbak tadi beli minum disitu kan?! Tadi kayaknya saya liat mbak dech disana!" sambil tangannya menunjuk kearah tempat tadi aku membeli minuman. Aku mengingat-ingat.. oh iya bukankah sewaktu aku minum disana aku memang melihat dia jug a sedang menawarkan jasanya diseberang tempat aku tersebut, ternyata tajam juga ingatan anak ini begitu pikirku. "ooh, pantas.. ibu kamu memang orang baik & mbak seneng banget karena kamu menularkan kebaikkannya. Kamu bersyukur punya ibu sepertinya & ibu kamu juga pasti bangga ya punya anak yang baik & pintar seperti kamu". Tak jauh dari tempat tersebut kulihat sebuah taksi meluncur kearahku & aku pun menyetopnya lalu Ugipun membantuku memasukkan bawaanku ke taksi & aku pun tak lupa untuk mengucapkan terima kasih padanya. "makasih ya Gi & salam buat ibu kamu". Kulihat Ugi mengangguk sambil tersenyum & taksiku pun semakin menjauh darinya, meninggalkan Ugi, ibunya & para penghuni pasar lainnya dengan ritual harian mereka yang telah meninggalkan sebuah perenungan panjang tentang makna bekerja dalam benakku.
***
Hari ini saya mendapatkan banyak hal yang berarti dalam hidup saya. Diantaranya yang paling utama adalah dari seorang ibu penjual minuman & seorang anak kecil penjual jasa pengangkut barang tersebut saya belajar tentang etos bekerja yang sesungguhnya. Mereka benar-benar pribadi yang menghargai nilai bekerja. Buat mereka, bekerja itu bukan sekedar mendapatkan upah belaka tapi lebih dari itu karena mereka juga ingin menunjukkan bahwa itulah pekerjaan mereka, itulah kemampuan mereka & mereka bangga dengan apa yang sdang mereka kerjakan. Selain materi, mereka juga punya harapan bahwa apa yang mereka kerjakan akan membawa nilai kebaikkan yang mereka anggap sebagai ibadah. Buat mereka, bekerja adalah budaya walaupun itu mungkin hanya dalam area yang kecil se kali. Walaupun harus bersusah payah, mereka tetap bahagia atas apa yang telah mereka kerjakan dalam perjuangan hidup mereka.Yach, semoga saja mereka bisa menjadikan apa yang mereka kerjakan itu sebagai salah satu ciri, citra & semangat yang terus memberikan ilham dalam perjalanan hidup mereka terutama untuk seorang anak kecil yang mungkin masih sangat jauh perjalanan hidupnya. Semoga saja anak-anak seperti Ugi akan dapat mengukir sejarah dengan tapak-tapak prestatif mereka. Seperti kata pepatah, pekerjaan itu mempertinggi derajat manusia & manusia tanpa pekerjaan hanya akan menjadi santapan nafsunya, semoga kita bisa menjadi pribadi-pribadi yang bisa menghargai sebuah pekerjaan & bisa berprestasi atas dasar hasil keringat sendiri.
Selamat Bekerja, Selamat menjalankan fitrah sebagai seorang manusia.
No comments:
Post a Comment